
KONSUMSI gula, garam, dan lemak (GGL) secara berlebihan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus obesitas pada anak dan remaja. Kondisi ini kini menjadi perhatian serius karena tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Perubahan pola hidup, terutama meningkatnya konsumsi makanan dan minuman tinggi GGL serta menurunnya aktivitas fisik, turut mendorong kenaikan angka obesitas pada kelompok usia muda.
Saat ini, berbagai makanan dan minuman tinggi kalori semakin mudah ditemukan dan dikonsumsi sehari-hari. Mulai dari minuman berpemanis, kopi susu kekinian, minuman bersoda, makanan cepat saji, camilan kemasan, hingga gorengan menjadi pilihan yang digemari banyak anak dan remaja.
Padahal, sebagian besar makanan dan minuman tersebut mengandung kalori tinggi, tetapi rendah serat serta zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh. Jika dikonsumsi secara berlebihan tanpa diimbangi aktivitas fisik yang cukup, kelebihan energi akan disimpan dalam bentuk lemak dan menyebabkan peningkatan berat badan.
GGL Berlebih Dapat Mengganggu Kesehatan Tubuh
Mengutip dari laman Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Aceh, konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan jumlah kalori harian secara signifikan. Sementara itu, tingginya kandungan garam dan lemak dalam makanan olahan juga dapat memengaruhi keseimbangan metabolisme tubuh.
Dalam jangka panjang, pola makan tinggi GGL tidak hanya meningkatkan risiko obesitas, tetapi juga berkaitan dengan berbagai penyakit tidak menular. Remaja yang mengalami obesitas diketahui memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes melitus tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, stroke, hingga gangguan pernapasan.
Dampaknya juga tidak terbatas pada kesehatan fisik. Obesitas pada remaja dapat memengaruhi kondisi psikologis, seperti menurunnya rasa percaya diri, munculnya perasaan rendah diri, hingga meningkatkan risiko depresi.
Selain itu, kelebihan berat badan yang terjadi sejak usia muda berpotensi berlanjut hingga dewasa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak dan remaja yang mengalami obesitas cenderung tetap mengalami kelebihan berat badan saat dewasa apabila tidak mendapatkan penanganan dan perubahan gaya hidup yang tepat.
Perlu Pola Makan Sehat dan Aktivitas Fisik
Untuk mencegah obesitas dan dampak kesehatannya, Dinkes Aceh menganjurkan masyarakat, khususnya anak dan remaja, untuk menerapkan pola makan bergizi seimbang. Gizi berimbang sesuai pedoman Isi Piringku.
Kebiasaan memperbanyak konsumsi buah dan sayuran, membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta mengurangi minuman berpemanis menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan sejak dini.
Selain menjaga pola makan, aktivitas fisik juga memegang peranan penting dalam menjaga berat badan tetap ideal. Anak dan remaja dianjurkan melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit setiap hari. Kegiatan tersebut dapat berupa olahraga, berjalan kaki, bersepeda, bermain di luar ruangan, maupun aktivitas lain yang membuat tubuh aktif bergerak.
Selain itu, upaya mencegah obesitas tidak dapat dilakukan oleh remaja seorang diri. Keluarga memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan hidup sehat melalui penyediaan makanan bergizi di rumah dan pembatasan konsumsi makanan ultra-proses.
Orang tua juga diimbau menjadi contoh dalam menerapkan pola makan sehat dan gaya hidup aktif sehingga kebiasaan tersebut dapat ditiru oleh anak. (Dinkes Aceh/Z-2)
