
STARBUCKS di Korea Selatan akan menutup seluruh gerainya selama setengah hari pada pekan depan. Langkah ekstrem ini diambil agar seluruh staf dapat menghadiri kelas sejarah, menyusul kemarahan publik atas kampanye promosi yang dinilai membangkitkan memori kelam tindakan kekerasan militer terhadap demonstran pro-demokrasi.
Jaringan kedai kopi ini menuai kecaman luas setelah meluncurkan promosi cangkir ramah lingkungan bertajuk “Tank Day“. Ironisnya, promosi tersebut dirilis tepat pada hari peringatan Pemberontakan Gwangju, sebuah tragedi bersejarah ketika setidaknya 165 warga sipil tewas di tangan militer.
Shinsegae Group, selaku pemegang lisensi operasional Starbucks di Korea Selatan, langsung memecat CEO Starbucks Korea pada hari skandal tersebut mencuat. Pihak perusahaan mengumumkan bahwa Chairman Chung Yong-jin juga akan ikut serta dalam pelatihan ini.
Seluruh gerai di negara tersebut akan tutup pada Rabu pekan depan mulai pukul 15.00 waktu setempat selama tiga jam untuk memfasilitasi pelatihan staf, dan baru akan beroperasi kembali keesokan harinya. Selain itu, pada Senin, seluruh karyawan Starbucks Korea akan menerima edukasi kesadaran sejarah melalui penayangan video. Ini menjadi penutupan awal nasional pertama bagi Starbucks Korea sejak pertama kali membuka gerainya pada tahun 1999.
Pihak manajemen menjelaskan nama “Tank Day” sebenarnya merujuk pada lini produk tumbler “Tank Series” yang dipromosikan memiliki kapasitas volume besar. Starbucks Korea juga telah menyampaikan permohonan maaf resminya.
“Memohon maaf karena telah menyebabkan ketidaknyamanan dan kekhawatiran kepada pelanggan kami akibat masalah ini,” tulis pihak perusahaan.
Skandal ini sempat memicu reaksi keras dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, yang menumpahkan kekesalannya di media sosial saat boikot dan aksi protes meluas di depan gerai-gerai Starbucks bulan lalu. “Tindakan tidak manusiawi dan memalukan ini,” tulis Presiden Lee Jae Myung.
Selain masalah nama “Tank”, materi promosi tumbler tersebut juga memicu kontroversi karena menggunakan frasa “tak on the table!” dalam bahasa Korea. Kata “tak” meniru bunyi objek yang digebrak ke meja, yang mengingatkan publik pada pernyataan kontroversial polisi tahun 1987 terkait kematian seorang mahasiswa aktivis dalam tahanan. Shinsegae Group mengungkapkan bahwa slogan tersebut dipilih oleh tim pemasar setelah menggunakan bantuan alat kecerdasan buatan (AI).
Pemberontakan Gwangju tahun 1980 sendiri merupakan tonggak penting yang membawa Korea Selatan menuju jalur demokrasi dan berhasil menumbangkan rezim diktator Chun Doo-hwan tahun 1987. (BBC/Z-2)
