
AJANG budaya Banyumas Lengger Bicara 2026 akan melibatkan sekitar 5.000 penari dalam kegiatan Lenggeran Bareng yang akan digelar di Menara Teratai Purwokerto pada Jumat (26/6) mendatang.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat posisi Banyumas sebagai destinasi wisata budaya sekaligus mengantarkan Banyumas Lengger Bicara masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) 2027.
Ketua Panitia Banyumas Lengger Bicara 2026 R Satria Setyanugraha mengatakan penyelenggaraan tahun ini mengusung tema “Gemah Ripah Loh Jinawi” yang merepresentasikan kesuburan alam serta kemakmuran masyarakat.
Menurutnya, tema tersebut dipilih sebagai refleksi bahwa masyarakat Banyumas tetap memiliki optimisme dan kemampuan untuk berkembang meski menghadapi berbagai tantangan. “Tema ini merupakan harapan dan semangat untuk maju selalu ada di tengah dinamika yang dihadapi masyarakat,” katanya.
Pria yang akrab disapa Bagus itu menjelaskan, Banyumas Lengger Bicara 2026 akan menghadirkan tiga agenda utama, yakni Art Camp, Lenggeran Bareng, dan pertunjukan kolosal bertajuk “Senandung Tanah Makmur”.
Art Camp akan berlangsung pada 25-26 Juni 2026 dengan menyasar anak-anak berusia 5 hingga 10 tahun. Dalam kegiatan tersebut, peserta akan diperkenalkan pada berbagai kesenian tradisional Banyumas melalui pembelajaran musik calung, tari lengger, hingga pembuatan wayang lengger dari bahan daur ulang berupa botol plastik.
Sementara itu, puncak kemeriahan akan berlangsung pada Jumat (26/6) sore melalui kegiatan Lenggeran Bareng yang ditargetkan diikuti sekitar 5.000 penari dari berbagai daerah.
“Lenggeran Bareng menjadi bagian dari upaya memperkuat Banyumas Lengger Bicara agar dapat masuk dalam Karisma Event Nusantara tahun 2027,” ujarnya.
Pada malam harinya, acara akan dilanjutkan dengan pertunjukan utama yang diawali pemberian penghargaan kepada dua maestro seni dan budaya Banyumas, yakni Peang Penjol dan Suliyah, atas dedikasi mereka dalam menjaga dan mengembangkan kesenian daerah.
Sutradara Banyumas Lengger Bicara 2026, Ridwan Bungsu, mengatakan pertunjukan akan dibuka dengan pementasan karya maestro lengger Rianto berjudul “Sastra Jiwaga” yang sebelumnya telah tampil di berbagai negara.
Selanjutnya, penonton akan disuguhkan pertunjukan kolosal “Senandung Tanah Makmur” yang memadukan beragam tarian tradisional Nusantara dalam satu panggung. Selain tari lengger Banyumas, pertunjukan juga akan menampilkan tari ngremo dari Jawa Timur, jaipong dari Jawa Barat, serta sejumlah kesenian daerah lainnya.
“Kolaborasi ini menunjukkan kekayaan budaya Indonesia yang dapat berpadu dalam satu karya pertunjukan,” kata Ridwan.
BERI DAMPAK EKONOMI
Pembina Banyumas Lengger Bicara 2026, Andy F. Noya, menilai kegiatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah.
Menurut dia, penyelenggaraan Banyumas Lengger Bicara yang berdekatan dengan BRI Jazz Gunung Slamet pada 26-27 Juli 2026 diharapkan mampu menarik wisatawan, komunitas seni, serta pelaku ekonomi kreatif untuk datang ke Banyumas.
“Kami berharap kolaborasi ini menjadi kekuatan yang utuh dan mampu menghadirkan manfaat ekonomi bagi Banyumas melalui sektor wisata dan budaya,” katanya.
Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menegaskan Banyumas Lengger Bicara akan ditetapkan sebagai agenda budaya tahunan Kabupaten Banyumas. “Penyelenggaraan yang kini memasuki tahun ketiga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan seni tradisi, khususnya tari lengger yang selama ini menjadi salah satu identitas budaya Banyumas,”katanya.
Selain Banyumas Lengger Bicara, Pemkab Banyumas juga berencana menjadikan sejumlah kegiatan budaya lainnya sebagai agenda rutin daerah, termasuk program Ngibing 24 Jam yang digagas seniman Banyumas, Rianto. Ia menilai penguatan agenda budaya menjadi strategi penting dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.
Tak hanya itu, pemerintah daerah juga berkomitmen mempertahankan kegiatan jemparingan di kawasan Kota Lama Banyumas sebagai daya tarik wisata sekaligus sarana pelestarian budaya tradisional. “Saya ingin Banyumas menjadi tujuan wisata budaya, termasuk budaya-budaya Banyumas yang kita miliki,” kata Sadewo. (E-2)
