Piala Dunia tanpa Dunia
(MI/Seno)

PIALA Dunia 2026 mungkin akan menjadi Piala Dunia pertama yang namanya terdengar seperti sindiran. Disebut Piala Dunia, tetapi tidak semua dunia dapat hadir di dalamnya. Ada negara peserta yang berhak bertanding, sementara sebagian pendukungnya tertahan di depan loket visa. Ada tim nasional yang membawa bendera rakyatnya, sedangkan rakyat itu belum tentu dapat melewati pemeriksaan perbatasan. FIFA berbicara tentang persatuan umat manusia. Negara tetap menentukan siapa yang boleh masuk.

Sepak bola selalu gemar memproduksi kalimat-kalimat besar. Permainan ini hanya membutuhkan satu bola dan dua gawang. Manusia lalu menambahkan lagu kebangsaan, sponsor, hak siar, aparat keamanan, diplomasi, serta pidato tentang perdamaian. Makin sederhana permainannya, makin rumit dunia di sekelilingnya. Anak-anak dapat bermain tanpa panitia. Piala Dunia membutuhkan negara, intelijen, polisi perbatasan, maskapai penerbangan, jaringan perbankan, serta para elite politik yang ingin tampak dekat dengan rakyat melalui olahraga.

Kejujuran sepak bola justru terletak di situ. Permainan ini tidak pernah benar-benar terpisah dari politik. Klub membawa sejarah kelas sosial, agama, etnis, serta luka lama. Tim nasional memikul batas wilayah, perang masa lalu, kolonialisme, dan ambisi negara modern. Kegembiraan di tribune membuat publik merasa politik sedang beristirahat. Politik sesungguhnya hanya berpindah tempat duduk sambil menunggu kamera menyorot.

Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko semula tampak sebagai pilihan rasional. Infrastruktur tersedia. Pasar besar. Jaringan penyiaran matang. Minat publik Amerika terhadap sepak bola terus tumbuh. Setelah Qatar, Amerika Utara terlihat seperti kembalinya turnamen ke ruang yang lebih akrab bagi imajinasi Barat. Dari kejauhan, pilihan itu tampak nyaman. Dari dekat, turnamen ini memasuki dunia yang semakin curiga terhadap mobilitas manusia dan semakin cepat menerjemahkan perbedaan paspor sebagai ancaman keamanan.

Drama Piala Dunia biasanya dimulai setelah peluit pertama berbunyi. Piala Dunia 2026 menghadirkan drama jauh sebelum penonton menemukan nomor kursinya. Lawan pertama bukan bek tengah Argentina atau penyerang Brasil. Lawan pertama adalah formulir visa. Lawan kedua berupa daftar larangan perjalanan. Lawan ketiga hadir dalam bentuk pertanyaan petugas imigrasi. Wasit pertama bukan sosok pembawa kartu kuning, melainkan negara yang menentukan siapa boleh masuk dan siapa harus menonton dari kejauhan.

 

WASIT DI MEJA IMIGRASI

Kasus Omar Abdulkadir Artan memperlihatkan kenyataan tersebut dengan telanjang. Artan merupakan wasit terbaik Afrika 2025 dan diproyeksikan menjadi wasit Somalia pertama dalam sejarah Piala Dunia. FIFA telah memilihnya. Visa telah dikantongi. Perjalanan menuju Miami sudah ditempuh demi mengikuti pelatihan resmi menjelang turnamen.

Otoritas Amerika Serikat tetap menolaknya masuk setelah pemeriksaan tambahan. FIFA akhirnya mencoret namanya dari daftar wasit Piala Dunia. Meritokrasi sepak bola global berhenti di meja pemeriksaan imigrasi. Bahkan seorang ofisial resmi FIFA tidak kebal terhadap logika keamanan negara. Peristiwa itu memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada nasib seorang wasit Somalia.

Selama tiga dekade terakhir, globalisasi dipahami sebagai proses yang mengikis arti batas negara. Barang, modal, informasi, hiburan, serta identitas budaya bergerak melintasi dunia dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Piala Dunia merupakan salah satu simbol paling kuat dari imajinasi tersebut. Turnamen ini menjual gagasan tentang dunia tanpa sekat, tempat identitas nasional dapat dipertemukan dalam aturan permainan yang sama.

 

JEBAKAN GLOBALISASI PALSU

G John Ikenberry dalam A World Safe for Democracy menulis bahwa tatanan liberal internasional dibangun di atas janji keterbukaan, multilateralisme, aturan bersama, serta keyakinan bahwa interdependensi akan memperkecil ruang konflik. Tatanan itu tidak pernah sempurna. Kritik terhadap standar ganda Barat telah lama bermunculan. Krisis dua dekade terakhir memperlihatkan bahwa daya integratif tatanan tersebut semakin melemah. Pandemi, perang, rivalitas kekuatan besar, populisme, serta kecemasan terhadap migrasi mendorong negara-negara kembali menekankan kontrol atas perbatasan dan keamanan nasional.

Piala Dunia 2026 dapat dibaca sebagai miniatur dari krisis tersebut. FIFA tetap menjual imajinasi tentang dunia yang terbuka dan terhubung. Negara-negara tuan rumah justru mengelola mobilitas dengan logika kewaspadaan. Turnamen global berlangsung dalam dunia yang semakin tidak percaya pada globalisasi.

Rebecca Adler-Nissen dan Ayse Zarakol dalam Struggles for Recognition menawarkan alat baca lain. Menurut keduanya, persoalan utama tatanan internasional bukan sekadar perebutan kekuatan, melainkan perebutan pengakuan. Dunia tidak hanya menentukan siapa yang kuat. Dunia juga menentukan siapa yang dianggap sah, aman, dan layak menjadi bagian dari komunitas internasional.

Pertanyaan itu terasa sangat dekat dengan pengalaman Piala Dunia 2026. Siapa yang boleh hadir? Siapa yang harus menjalani pemeriksaan tambahan? Siapa yang diterima tanpa banyak pertanyaan? Siapa yang perlu membuktikan bahwa dirinya tidak berbahaya? Paspor berubah menjadi penanda status. Mobilitas menjadi hak istimewa, bukan pengalaman universal. Globalisasi tidak dinikmati dengan cara yang sama oleh semua orang.

Franklin Foer dalam How Soccer Explains the World mengingatkan bahwa sepak bola tidak pernah menjadi pelarian dari dunia nyata. Sepak bola justru memperlihatkan cara dunia bekerja. Nasionalisme, identitas, kapitalisme, konflik sejarah, dan ambisi politik hadir dalam permainan yang tampak sederhana. Arena olahraga sering dianggap sebagai ruang netral. Kenyataan menunjukkan bahwa stadion merupakan tempat berbagai pertarungan sosial dan politik dipertontonkan dalam bentuk yang lebih mudah diterima publik.

 

LAPANGAN DAN GEOPOLITIK

Iran menghadirkan contoh paling gamblang mengenai sulitnya memisahkan sepak bola dari geopolitik. Tim nasional Iran tidak datang sebagai sebelas pemain semata. Seluruh beban hubungan buruk antara Teheran dan Washington ikut memasuki stadion. Situasinya menjadi lebih rumit setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap target-target Iran menjelang turnamen. Ketegangan tersebut memperlihatkan betapa tipis jarak antara diplomasi koersif dan pesta olahraga global.

Pertandingan Iran di wilayah Amerika hampir mustahil dibaca sebagai pertandingan biasa. Bendera berubah menjadi pernyataan politik. Lagu kebangsaan menjadi simbol identitas. Kursi kosong pendukung Iran dapat berbicara lebih keras ketimbang koreografi tribune.

Meksiko memperlihatkan sisi lain dari geopolitik kontemporer. Ancaman kartel dan operasi keamanan besar-besaran menunjukkan bahwa negara tuan rumah tidak cukup hanya memiliki stadion megah. Kapasitas negara diuji melalui kemampuannya menjaga ruang publik tetap aman bagi turis, pemain, jurnalis, dan warga biasa. Piala Dunia berubah menjadi ujian legitimasi negara modern.

Amerika Serikat menjual diri sebagai pusat hiburan global sekaligus memperlihatkan wajah keras politik imigrasi. Bagi sebagian orang, Amerika adalah stadion raksasa dengan lampu terang. Bagi sebagian lain, Amerika adalah antrean pemeriksaan, risiko dicurigai, serta rasa tidak aman akibat nama, tampang, atau paspor. Pengalaman melintasi perbatasan menjadi pengingat bahwa kedaulatan belum kehilangan daya paksa.

FIFA ikut bertanggung jawab atas paradoks ini. Organisasi tersebut bukan penyebab tunggal, melainkan pedagang mimpi yang terlalu percaya pada produknya sendiri. Ekspansi menjadi 48 tim dipasarkan sebagai demokratisasi sepak bola. Lebih banyak negara hadir. Lebih banyak bangsa merasa terwakili. Secara olahraga, gagasan tersebut menarik. Secara geopolitik, keterwakilan tidak identik dengan keterbukan. Menambah jumlah peserta tidak otomatis memperluas kebebasan bergerak.

Piala Dunia memang akan tetap menghadirkan gol menit akhir, kegagalan penalti, pemain muda yang mendadak terkenal, pelatih yang disalahkan seluruh negeri, serta komentator yang berbicara seolah hidup manusia bergantung pada formasi 4-3-3. Pesona sepak bola tidak akan hilang. Manusia membutuhkan permainan agar tidak selalu mengingat bahwa dunia sering dikelola dengan buruk.

Justru di situlah pentingnya membaca Piala Dunia melampaui skor dan klasemen. Turnamen ini bukan sekadar upaya mencari juara. Panggung tersebut memperlihatkan keadaan dunia setelah kepastian-kepastian lama mulai runtuh. Janji tentang keterbukaan global semakin dipertanyakan. Institusi internasional menghadapi batas kewenangannya sendiri. Politik pengakuan menentukan siapa yang benar-benar diterima sebagai bagian dari komunitas global.

Piala Dunia 2026 bukan kegagalan sepak bola menyatukan dunia. Turnamen ini justru memperlihatkan dunia sebagaimana adanya. Tatanan liberal internasional kehilangan sebagian daya tariknya. Kedaulatan negara tetap menjadi otoritas tertinggi. Hierarki keanggotaan global masih menentukan pengalaman manusia dalam bergerak melintasi batas.

Bola yang digunakan tetap sama. Lapangan tempat permainan berlangsung tidak lagi sama. Sebagian orang masuk melalui pintu utama. Sebagian lain menunggu di luar sambil membawa tiket, paspor, dan harapan yang belum tentu cukup kuat untuk melewati perbatasan.

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *