
DALAM hitungan minggu, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Teheran melesat ke jantung konflik Timur Tengah. Kelompok militan ini meningkatkan serangan di Laut Merah, memperluas jejak mereka di sepanjang pantai Yaman, dan menegaskan kendali atas Selat Bab al-Mandab, koridor krusial bagi energi global.
Ekspansi ini menandai transformasi Houthi menjadi pemain kunci dalam perang yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran. Berikut tinjauan mengenai kemampuan Houthi memperbesar lingkup pengaruhnya melalui persenjataan dan taktik yang mereka gunakan.
Serangan Kilat dan Kendali Wilayah
Dengan kekuatan yang diperkirakan mencapai 350.000 pejuang, Houthi keluar dari wilayah yang mereka kuasai selama lebih dari satu dekade di Yaman barat. Dalam serangan kilat, militan Houthi merebut pulau-pulau di Laut Merah dan memperluas dominasi mereka di daratan, termasuk kota pelabuhan Mokha.
Persiapan serangan ini dilakukan selama berbulan-bulan. Pada pertengahan Agustus, mereka memindahkan senjata dan ribuan tentara ke posisi di sekitar Mokha, mengancam jalur pasokan lawan. Selain kekuatan fisik, mereka memanfaatkan kendali atas sistem telekomunikasi Yaman untuk menyadap panggilan musuh, menyebarkan kebingungan, dan mengintimidasi rival agar menyerah.
Kekuatan Asimetris di Laut
Meskipun tidak memiliki angkatan laut tradisional, Houthi mengoperasikan kekuatan maritim asimetris yang sangat mengganggu di sepanjang garis pantai Yaman. Mereka mengandalkan:
- Rudal berbasis darat rancangan Iran.
- Drone peledak dan drone boat.
- Ranjau laut.
- Kapal serbu cepat bersenjata.
Persenjataan ini memungkinkan mereka mengancam wilayah sejauh lebih dari 1.500 mil, menjangkau jauh ke dalam Arab Saudi hingga Israel.
Dukungan Teknologi Iran
Gudang senjata Houthi sangat bergantung pada teknologi dan komponen Iran. Sejak sekitar tahun 2015, Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mulai mengirimkan komponen untuk merakit rudal dan drone rancangan Iran. Teheran juga mengirimkan pelatih untuk mengajarkan cara membangun senjata tersebut secara mandiri.
Beberapa senjata utama dalam arsenal mereka meliputi:
- Drone Waid: Versi lokal dari drone Shahed Iran yang sering digunakan untuk serangan bunuh diri.
- Drone Samad: Sistem yang lebih canggih untuk menyerang target di Arab Saudi, Emirat Arab, dan Israel.
- Rudal Sayyad: Rudal balistik anti-kapal pertama yang dikerahkan oleh aktor non-negara, mampu mengunci kapal menggunakan refleksi radar.
Menurut Departemen Pertahanan AS, banyak dari senjata ini disimpan di fasilitas bawah tanah untuk menghindari serangan udara.
Peran Tiongkok dan Jalur Penyelundupan
Selain Iran, Houthi kini memiliki sumber pasokan baru: Tiongkok. Laporan PBB dan data ahli senjata menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan Tiongkok memasok barang-barang kegunaan ganda (dual-use) yang dapat digunakan untuk tujuan militer maupun sipil. Komponen ini sangat kritis bagi teknologi drone mereka.
Selama satu dekade, IRGC menggunakan kapal penangkap ikan kecil untuk menyelundupkan senjata ringan dan komponen rudal keluar dari Iran. Namun, karena banyak yang dicegat oleh otoritas AS, Houthi mulai mendiversifikasi jalur logistik mereka.
Laporan PBB juga mengungkapkan bahwa Houthi menggunakan Djibouti, negara pantai di Afrika, sebagai titik transfer senjata. Selain itu, mereka terdeteksi melakukan perdagangan senjata ringan dengan al-Shabaab, cabang al-Qaeda di Somalia, untuk memperkuat posisi mereka di kawasan tersebut. (The Wall Street Journal/I-2)
