
SENIMAN Sasya Tranggono menghadirkan cara pandang baru terhadap Jakarta melalui pameran tunggal bertajuk Menuju Jakarta 500 Tahun di Mata Sasya Tranggono di Laflo Menteng, Jakarta Pusat. Pameran ini menjadi bagian dari rangkaian menyambut peringatan 500 tahun Kota Jakarta pada 2027.
Dalam pameran tersebut, Sasya menampilkan 12 karya abstrak yang terinspirasi dari lanskap, bangunan ikonik, serta jejak sejarah Jakarta. Tema ini menjadi babak baru dalam perjalanan kreatifnya, setelah selama ini lebih dikenal melalui karya-karya bertema wayang, bunga, dan kupu-kupu.
“Saya belum pernah gambar gedung. Biasanya saya wayang, bunga, kupu-kupu. Sekarang building dan landscape. Semoga semuanya bisa melihat ada sesuatu yang baru,” ujar Sasya di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (13/6).
Gagasan pameran ini berangkat dari momentum Jakarta menuju usia lima abad. Sasya mengatakan, dorongan untuk mengangkat tema tersebut muncul setelah berdiskusi dengan arsitek sekaligus sosiolog Alwi Sjaaf, Owner PT Imago Mulia Persada/Laflo, mengenai sejarah Jakarta dan keterkaitannya dengan Batavia.
Pengalaman Sasya tinggal selama delapan tahun di Belanda turut memperkaya sudut pandangnya dalam membaca Jakarta sebagai kota yang dibentuk oleh lapisan sejarah panjang.
“Saya tinggal delapan tahun di Belanda. Saat ke Kota Tua saya melihat ini sebagai sentrum Batavia. Dari situ saya menemukan sumber inspirasinya,” kata dia.
Meski mengangkat tema bangunan dan lanskap kota, Sasya tetap mempertahankan karakter visual yang selama ini menjadi ciri khasnya, terutama permainan garis, komposisi geometris, dan pendekatan abstrak. Latar belakang pendidikan teknik atau engineering juga ikut memengaruhi cara Sasya membangun struktur visual dalam karya-karyanya.
Seluruh karya dalam pameran ini dikerjakan dalam waktu sekitar dua setengah bulan. Menurut Sasya, tantangan terbesar bukan terletak pada teknik melukis, melainkan pada keterbatasan waktu dan keinginannya mempersembahkan karya terbaik untuk momentum bersejarah Jakarta.
“Tantangan terbesar waktu. Karena harus mempersembahkan yang terbaik,” ujarnya.
Salah satu karya yang paling berkesan bagi Sasya adalah “Generasi Bintang”. Karya tersebut dibuat sebagai refleksi tentang pentingnya menyiapkan generasi penerus yang memiliki nilai moral, cinta bangsa, dan menghormati orang tua.
“Itu saya persembahkan untuk Tuhan dan untuk anak-anak. Kita harus melahirkan generasi baru yang takut Tuhan, cinta bangsa, hormat orang tua. Itu legacy yang harus kita tinggalkan,” katanya.
Selain menampilkan karya seni, pameran ini juga membawa pesan pelestarian sejarah Jakarta. Alwi menilai masyarakat Indonesia masih perlu meningkatkan perhatian terhadap warisan sejarah dan budaya yang dimiliki.
Menurut dia, kota global tidak hanya dibangun melalui infrastruktur modern, tetapi juga harus ditopang oleh ekosistem kebudayaan yang kuat, mulai dari museum, ruang pertunjukan, hingga aktivitas seni yang hidup di tengah masyarakat.
“Kita ini kurang menghargai sejarah. Padahal semua yang ada hari ini adalah bagian dari sejarah peradaban kita. Kota global harus merepresentasikan kebudayaannya,” ujar Alwi.
Alwi mencontohkan rendahnya apresiasi masyarakat terhadap museum dan situs sejarah, meski biaya masuk yang dikenakan relatif terjangkau. Karena itu, ia berharap pameran seperti yang digelar Sasya dapat menjadi pemantik tumbuhnya minat publik terhadap seni, sejarah, dan kebudayaan.
Pameran Menuju Jakarta 500 Tahun di Mata Sasya Tranggono berlangsung di Laflo Menteng, Jakarta Pusat. Selain menghadirkan karya-karya terbaru bertema Jakarta, sebagian hasil penjualan karya juga akan digunakan untuk kegiatan sosial dan pendidikan bagi anak-anak di berbagai daerah Indonesia. (Z-10)
