
GEMERICIK air sungai yang mengalir di sisi Koboy River Camp menghadirkan suasana sejuk dan menenangkan, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Berada di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, kawasan wisata ini menawarkan suasana khas pegunungan Puncak yang asri. Hamparan pepohonan hijau dan udara segar menyambut setiap pengunjung yang datang.
Di balik pesona alam tersebut, Koboy River Camp bukan sekadar destinasi wisata. Tempat ini menjadi salah satu upaya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tugu Selatan Mandiri dalam menciptakan sumber ekonomi bagi masyarakat desa melalui pengembangan wisata berbasis potensi lokal.
Koboy River Camp merupakan inovasi yang dikembangkan oleh BUMDes Tugu Selatan Mandiri setelah desa tersebut berhasil masuk dalam nominasi 10 besar Desa BRILiaN 2025.
Dukungan Desa BRILiaN
Direktur BUMDes Tugu Selatan Mandiri Dadang Juanda mengatakan, dirinya dipercaya memimpin BUMDes sejak 2020. Pada masa awal kepemimpinannya, BUMDes memperoleh dukungan dana desa yang digunakan secara bertahap untuk membangun fondasi berbagai unit usaha.
Seiring berjalannya waktu, BUMDes tidak lagi bergantung pada dana desa. Setelah mengikuti Program Desa BRILiaN, Desa Tugu Selatan mendapatkan dukungan senilai Rp300 juta yang digunakan untuk pengembangan infrastruktur wisata.
“Setelah mengikuti Program Desa BRILiaN, alhamdulillah Tugu Selatan menjadi salah satu penerima manfaat berupa dukungan sebesar Rp300 juta yang kami gunakan untuk pengembangan infrastruktur,” ujar Dadang saat ditemui di Koboy River Camp, Sabtu (13/6).
Keikutsertaan Desa Tugu Selatan dalam Program Desa BRILiaN 2025, lanjut Dadang, berangkat dari keterlibatan aktif BUMDes dalam berbagai kegiatan pengembangan desa. Sebagai koordinator BUMDes wilayah Bogor Selatan yang membawahi delapan kecamatan, pihaknya rutin mengikuti berbagai pembinaan dan pendampingan, mulai dari penguatan tata kelola hingga strategi pemasaran.
Selain itu, Dadang menilai masuknya Desa Tugu Selatan dalam nominasi 10 besar Desa BRILiaN 2025 juga dipengaruhi oleh kontribusi desa tersebut memiliki nasabah dengan aktivitas terbesar di wilayah Cisarua.
“Kenapa bisa terpilih masuk 10 besar Desa BRILiaN? Mungkin karena Tugu Selatan bisa dikatakan memiliki nasabah terbesar di Cisarua,” ucapnya.
Adapun dukungan Program Desa BRILiaN tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan diwujudkan melalui berbagai sarana penunjang wisata. Bantuan tersebut dimanfaatkan untuk penyediaan meja, kursi, payung, penataan kawasan, pembangunan akses jalan, hingga penguatan promosi dan branding destinasi.
“Yang Rp300 juta itu tidak berbentuk uang. Dibantu dalam bentuk fasilitas seperti kursi, penataan kawasan, jalan, sampai branding,” kata pria berusia 61 tahun itu.
Selama hampir satu tahun, Desa Tugu Selatan menjalani proses pendampingan untuk mengoptimalkan potensi desa, terutama di sektor pariwisata. Bagi Dadang, manfaat terbesar yang dirasakan bukan hanya bantuan fasilitas, melainkan transfer pengetahuan untuk memastikan keberlanjutan usaha desa.
“Manfaat yang dirasakan sangat besar. Kami mendapat pendampingan dan arahan untuk pengembangan usaha ke depan sehingga BUMDes bisa terus berjalan,” ujarnya.
Wisata Kuda
Selain keberadaan Koboy River Camp, Desa Tugu Selatan juga menawarkan wisata kuda. Bahkan dahulu desa tersebut dikenal sebagai Kampung Texas karena banyaknya warga yang menggantungkan hidup dari aktivitas berkuda di kawasan Gunung Mas.
“Mayoritas warga di sini penunggang kuda. Tapi, selain itu, kami juga tengah mengembangkan potensi lainnya yang menjadi bagian dari wisata dan edukasi yakni Koboy River Camp,” kata Dadang.
Pengembangan kawasan wisata seluas lebih dari empat hektare tersebut tidak dapat dilakukan secara instan. Proses pembangunan dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang tersedia.
“Kalau mengandalkan dana desa saja tentu tidak cukup, dan saat ini masih terus kami kembangkan tempat wisata ini,” tuturnya.
Dalam pengelolaannya, kawasan wisata ini menerapkan sistem bagi hasil. Sebagian pendapatan yang diperoleh diarahkan untuk mendukung peningkatan pendapatan asli desa (PADes).
Menurut Dadang, skema pengelolaan tersebut diharapkan tidak hanya mampu menjaga keberlanjutan pengembangan destinasi wisata, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi desa melalui peningkatan PADes.
Penguatan Peternakan
Selain mengembangkan sektor pariwisata, BUMDes Tugu Selatan Mandiri juga memperkuat sektor peternakan melalui dukungan Program Desa BRILiaN. Menurut Dadang, saat ini terdapat sekitar 120 ekor sapi yang dikelola oleh kelompok peternak binaan.
Produksi susu dari para peternak tersebut dipasarkan ke PT Sumoda Tama Berkah, pemilik merek dagang Susu Mbok Darmi.
“Hasilnya dijual ke perusahaan yang memiliki merek dagang Susu Mbok Darmi. Produksi susu yang kami pasok sekitar 1.500 liter,” katanya.
Dukungan KUR BRI
Upaya pemberdayaan masyarakat juga dilakukan melalui pendampingan akses pembiayaan. BUMDes Tugu Selatan Mandiri mendorong para peternak memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebagai penguatan modal usaha.
“Kami memberikan rekomendasi untuk pengajuan KUR BRI. BUMDes ikut menjamin karena kami tahu usahanya jelas ada. Alhamdulillah lancar,” ujarnya.
Sekitar 120 peternak disebut telah mengakses pembiayaan tersebut dengan modal yang didapat sekitar Rp30 juta hingga Rp40 juta per individu.
“Intinya kami mandatkan ke mereka agar bisa mengembangkan usaha menjadi lebih baik,” ujar Dadang.
Menurutnya akses permodalan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan peternak. Harga beli susu yang sebelumnya berada di kisaran Rp6.200 per liter kini meningkat menjadi Rp8.200 per liter.
“Biasanya peternak menjual susunya Rp6.200 per liter. Sekarang kami beli Rp8.200 per liter. Jadi ada peningkatan Rp2.000 per liter untuk usaha masyarakat,” ungkapnya.
BUMDes juga membantu penguatan usaha melalui penyediaan berbagai sarana pendukung, seperti alat pendingin, tangki penyimpanan, hingga kendaraan operasional.
“Kami berusaha membeli alat pendingin, mobil, tangki. Makanya sekarang kami bisa lebih mandiri,” kata Dadang.
Dadang memperkirakan sekitar 20% dari total 18 ribu penduduk Desa Tugu Selatan telah terlibat dalam berbagai program ekonomi yang dikembangkan BUMDes.
“Makanya saya memberdayakan masyarakat sekitar di sini. Dari 18 ribu masyarakat yang ada di Tugu Selatan, sekitar 20 persen bisa diberdayakan,” jelasnya.
Strategi Berkelanjutan
Namun, perjalanan BUMDes Tugu Selatan Mandiri tidak selalu berjalan mulus. Pandemi covid-19 memberikan pukulan besar terhadap sejumlah unit usaha yang dikelola, termasuk sektor perjalanan wisata yang sebelumnya menjadi salah satu sumber pendapatan utama.
Dadang menerangkan sebelum pandemi, unit usaha tour and travel mampu menghasilkan omzet hingga miliaran rupiah setiap bulan. Namun, kondisi tersebut berubah drastis setelah pandemi melanda.
“Kami sebenarnya punya lima unit usaha. Salah satunya tour and travel. Dulu bisa mencapai Rp4 miliar sampai Rp5 miliar per bulan, tetapi setelah pandemi hanya sekitar 20% dari sebelumnya,” kata Dadang.
Situasi tersebut mendorong BUMDes untuk mencari terobosan baru agar roda perekonomian desa tetap bergerak. Salah satunya dengan mengembangkan Koboy River Camp sebagai destinasi wisata berbasis alam yang melibatkan masyarakat sekitar.
Dalam upaya memperkenalkan destinasi tersebut kepada masyarakat luas, pengelola membuka akses kunjungan secara gratis pada tahap awal. Cara ini dilakukan agar masyarakat dapat mengenal lebih dekat potensi yang dimiliki Koboy River Camp.
“Sekarang siapa pun yang mau berkunjung ke Koboy River Camp kami persilakan datang terlebih dahulu agar mengenal tempat ini,” ujarnya.
Pengembangan Bertahap
Dalam kesempatan sama, Manajer Operasional Koboy River Camp Nanang Sukmawardi menjelaskan, pengelolaan destinasi wisata tersebut baru berjalan sekitar tiga bulan. Meski demikian, proses pembangunan kawasan telah dimulai sejak 2024. Namun, sempat tertunda karena berbagai kendala sebelum akhirnya dilanjutkan.
“Baru tahun kemarin kita selesai bangun dan baru tiga bulan ini kita berjalan,” katanya.
Menurut Nanang, pada awalnya kawasan tersebut hanya dirancang sebagai tempat peristirahatan. Namun, melihat potensi alam yang dimiliki, terutama keberadaan aliran sungai yang membelah area tersebut, muncul gagasan untuk mengembangkannya menjadi kawasan perkemahan.
“Ini rencana pengembangannya kita camping ground. Itu ide awalnya karena kita lihat kondisi di sini kayaknya cocok ke arah sana. Awalnya kan kita hanya untuk tempat peristirahatan saja. Tapi lama-kelamaan muncul konsep, bagaimana kita bikin camping ground di sini, dan akhirnya kita kembangkan,” ujarnya.
Pengembangan Koboy River Camp dilakukan secara bertahap. Nanang menyebut modal awal yang digelontorkan mencapai sekitar Rp140 juta. Seiring berjalannya pembangunan, tambahan dana sekitar Rp170 juta kembali dialokasikan untuk mendukung penyempurnaan fasilitas.
Libatkan UMKM
Saat ini, sejumlah fasilitas dasar telah tersedia, seperti lima unit toilet, musala, serta kedai yang turut menjadi ruang pemasaran bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.
“Para UMKM juga menitipkan barang jualan mereka di sini,” terangnya.
Produk-produk makanan dan kebutuhan pengunjung dipasarkan melalui sistem titip jual, kemudian hasil penjualannya dihitung secara berkala bersama para pelaku usaha.
Bagi Nanang, keberadaan Koboy River Camp bukan semata-mata sebagai destinasi wisata baru. Lebih dari itu, kawasan ini diharapkan mampu menjadi sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Ia menegaskan, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penonton atas tumbuhnya sektor wisata di wilayahnya sendiri.
“Jadi keinginannya, masyarakat di sini tidak hanya jadi penonton, tapi terlibat langsung menjadi pelaku usahanya,” jelasnya.
Saat ini, sekitar puluhan warga telah terlibat dalam operasional dan aktivitas ekonomi di Koboy River Camp. Mereka berasal dari beragam latar belakang, mulai dari pedagang, pelaku UMKM, pengelola kuda wisata, hingga warga yang sebelumnya bekerja sebagai perantara penyewaan vila.
Pendapatan yang diperoleh kemudian dibagikan antara masyarakat yang terlibat dan pengelola.
Masih Gratis
Meski telah dibuka untuk umum, pengelola masih menggratiskan tiket masuk karena sejumlah fasilitas pendukung masih dalam tahap penyempurnaan.
“Kalau sekarang tiket masuk masih gratis karena fasilitas belum lengkap. Kalau dipaksakan berbayar, nanti pengunjung bisa komplain dan itu tidak bagus untuk ke depannya,” kata Nanang.
Ke depan, pengelola merencanakan penerapan tarif masuk sebesar Rp10 ribu untuk pengunjung dewasa dan Rp5 ribu bagi anak-anak.
Nanang mengungkapkan, pada hari-hari dengan cuaca cerah, jumlah kunjungan dapat mencapai 300 hingga 400 orang per hari.
“Dari jam 6 pagi kita sudah buka,” imbuhnya.
Nanang menegaskan, pengembangan Koboy River Camp tetap mengedepankan prinsip pemberdayaan masyarakat sehingga pihaknya memilih tidak menerima investasi besar dari luar.
Banyak tawaran investasi, tapi kami masih ingin mandiri. Ini dibangun oleh masyarakat untuk masyarakat,” katanya
Kolaborasi Pariwisata
Untuk memperluas jangkauan promosi, BUMDes Tugu Selatan Mandiri menggandeng biro perjalanan PT Arrahiim Wisata Mandiri. Direktur Pengembangan Usaha PT Arrahiim Wisata Mandiri, Yusuf, mengatakan pihaknya akan mendorong tamu-tamu yang berkunjung ke kawasan Puncak untuk singgah ke Koboy River Camp.
“Kami berkolaborasi dengan pengelola Koboy River Camp untuk menarik pengunjung,” ucapnya.
Menurut Yusuf, salah satu potensi yang bisa dikembangkan ialah wisata berbasis pengalaman, termasuk untuk wisatawan mancanegara, khususnya dari Timur Tengah. Berdasarkan pengalamannya, wisatawan asing kerap mencari suasana alam yang tenang dan memiliki ruang untuk beraktivitas bersama keluarga.
“Biasanya kalau wisatawan asing itu senangnya masak-masak di pinggir sungai. Makanya, ada rencana dibuat area nongkrong untuk menggaet wisatawan asing,” terangnya.
Meski demikian, saat ini fokus utama masih diarahkan pada wisatawan domestik sembari mempersiapkan fasilitas yang lebih memadai bagi pasar internasional.
Yusuf mengaku optimistis terhadap prospek Koboy River Camp sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat.
“Kita selaku pelaku usaha mesti optimis,” ujarnya.
Jamin Keamanan
Aspek keamanan menjadi perhatian utama dalam pengelolaan destinasi wisata di Desa Tugu Selatan. Melalui peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), masyarakat dilibatkan secara aktif untuk menjaga kenyamanan dan ketertiban di kawasan wisata. Yusup menuturkan, keberadaan objek wisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola, melainkan juga seluruh warga yang tinggal di sekitarnya.
“Masyarakat harus memahami bahwa di wilayah Tugu Selatan ini ada objek wisata yang harus kita jaga. Salah satunya agar tetap aman dan nyaman,” terangnya.
Ia menegaskan, upaya menciptakan rasa aman tersebut juga diwujudkan dengan memastikan tidak adanya praktik pungutan liar terhadap wisatawan. Menurutnya, kenyamanan pengunjung akan sulit terwujud apabila masih ditemukan tindakan yang merugikan wisatawan selama berada di lokasi wisata.
“Coba kalau Ibu ke sini tidak aman, misalkan ada pungli, itu kita pastikan tidak ada. Kami pastikan tidak ada pungli,” tegasnya.
Dengan suasana yang aman, nyaman, serta bebas dari pungutan liar, diharapkan wisatawan dapat menikmati pengalaman berwisata dengan tenang dan pulang membawa kesan positif dari kunjungannya ke Desa Tugu Selatan.
“Kita upayakan untuk selalu menciptakan rasa amannya. Ini agar para pengunjung membawa kenangan yang baik,” pungkasnya. (H-2)
