
BADAN Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPUJ) datangi Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, BOPPUJ bersama sejumlah instansi terkait meninjau langsung kondisi Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, Kamis (11/6). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung dampak abrasi dan banjir rob yang terus mengancam permukiman warga serta menindaklanjuti berbagai usulan penanganan yang telah diajukan pemerintah desa sejak beberapa tahun terakhir.
“Perjuangan kami mencari solusi atas persoalan abrasi dan banjir rob yang telah dilakukan sejak lama akhirnya menemukan titik terang,” tutur Kuwu (Kepala Desa) Ambulu, Sunaji, Kamis (11/6). Menurut Sunaji, bersama dengan warga, mereka melakukan beragam upaya mencari solusi agar masyarakat Desa Ambulu tidak terus-menerus menjadi korban banjir rob dan abrasi.
Dijelaskan Sunaji, pembangunan tanggul permanen sebenarnya telah dilakukan BBWS Cimanuk-Cisanggarung pada Juli 2024. Pembangunan tanggul tersebut dilakukan setelah mereka melaporkan kondisi banjir rob dan abrasi ke pemerintah pusat.
Tanggul permanen di saluran irigasi sisi timur permukiman mulai direalisasikan. Namun karena keterbatasan anggaran, pembangunan hanya mampu dikerjakan sepanjang 70 meter dari total kebutuhan sekitar 1,5 kilometer di sisi timur. Sementara penanganan sisi barat direncanakan pada tahap berikutnya. “Saat itu pembangunan sudah dimulai, tetapi belum bisa menjangkau seluruh wilayah yang membutuhkan perlindungan,” kata Sunaji.
Melihat kondisi masyarakat yang semakin terdampak akibat banjir rob, Pemerintah Desa Ambulu kemudian mengambil langkah mandiri. Pada 16 Januari 2025, pembangunan tanggul dilanjutkan sepanjang 1,43 kilometer menggunakan pancang bambu dan waring dengan dukungan sumber daya yang tersedia.
Upaya tersebut sempat memberikan rasa aman bagi warga di kawasan timur permukiman. Namun karena konstruksi yang bersifat sementara dan menghadapi gelombang pasang laut yang terus berulang, tanggul tersebut akhirnya kembali jebol.
Selanjutnya Sunaji juga berupaya mencari dukungan langsung dari pemerintah pusat. Pada 7 dan 16 Oktober 2025, ia mendatangi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta untuk mengajukan bantuan penanganan banjir rob yang semakin parah dan diterima oleh Deputi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB. Secara prinsip, BNPB menyatakan kesiapan membantu, namun penanganan bencana akibat banjir rob diarahkan kepada BOPPUJ yang berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur.
Selanjutnya pada 7 Desember 2025, tim gabungan yang terdiri dari Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian PUPR, Bappenas, dan BOPPUJ turun langsung ke Desa Ambulu untuk melakukan peninjauan lapangan.
Dalam kunjungan tersebut, Desa Ambulu disebut sedang dipertimbangkan untuk masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN) pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa yang dirancang untuk melindungi kawasan pesisir Pantai Utara Jawa dari ancaman abrasi dan banjir rob. “Kami mendapat informasi bahwa Ambulu masuk dalam pembahasan program Giant Sea Wall. Ini menjadi harapan besar bagi masyarakat,” tuturnya.
Selanjutnya, kunjungan tindak lanjut kembali dilakukan pada 30 April dan 4 Juni 2026 guna memastikan Desa Ambulu tetap menjadi salah satu prioritas pembahasan dalam program tersebut. Namun proses realisasi membutuhkan waktu yang tidak singkat. Selain nilai investasi yang sangat besar, proyek tersebut juga memerlukan kajian teknis, lingkungan, dan sosial yang mendalam sebelum dapat dilaksanakan.
Pemerintah Desa Ambulu berharap seluruh tahapan tersebut dapat berjalan lancar sehingga masyarakat yang selama bertahun-tahun terdampak banjir rob dan abrasi dapat segera memperoleh solusi permanen.
Banjir Rob yang Terus Menerjang
Sunaji pun menambahkan bahwa kondisi desa mereka sudah masuk kategori darurat banjir rob. “Banjir rob menerjang hampir setiap hari. Banjir rob ini juga telah mengubah wajah Desa Ambulu dan memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat,” tutur Sunaji.
Dijelaskan Sunaji, banjir rob tidak hanya merusak rumah dan perekonomian warga, tetapi juga mulai memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Warga hidup dalam kecemasan karena harus menghadapi ancaman rob hampir setiap hari.
Berdasarkan data pemerintah desa, sekitar 60 persen kawasan permukiman di Desa Ambulu kini terancam tenggelam. Ribuan rumah dan warga terdampak akibat masuknya air laut yang terus terjadi. “Tidak sedikit rumah warga yang rusak parah dan akhirnya ditinggalkan pemiliknya. Sejumlah bangunan bahkan tampak kosong dan terbengkalai akibat tidak lagi layak dihuni,” tutur Sunaji.
Untuk itu, mereka membutuhkan penanganan permanen agar desa mereka tidak terus tergerus banjir rob. (H-2)
