Rahasia Baru Kasuari, Burung Paling Berbahaya di Dunia yang Punya Jambul Menyala
Struktur pada tengkorak kasuari berpendar di bawah sinar UV, mengisyaratkan sinyal visual tersembunyi.(Scientific Reports)

MASYARAKAT lokal di sekitar hutan hujan Australia utara dan Papua Nugini sudah lama tahu untuk selalu menjaga jarak aman dari burung kasuari. Unggas raksasa ini dikenal sangat agresif, mampu berlari cepat menembus semak belukar yang padat, serta memiliki senjata mematikan berupa cakar berbentuk belati di setiap kakinya. Reputasinya sebagai burung paling berbahaya di dunia bukanlah isapan jempol semata. Namun, di balik fisiknya yang mengintimidasi, para ilmuwan baru saja menemukan sebuah rahasia tak terduga yang tersembunyi tepat di atas kepala mereka.

Kasuari memiliki jambul tinggi mirip helm yang disebut casque. Struktur ini merupakan tonjolan tulang yang dilapisi oleh keratin, zat keras yang sama dengan pembentuk kuku manusia. Selama dua abad, para ahli biologi terus berdebat mengenai fungsi asli dari jambul tersebut. 

Beberapa teori menduga komponen ini digunakan untuk mengintimidasi rival, melepaskan panas tubuh, atau memperkuat suara bernada rendah mereka di dalam hutan yang lebat. Teori yang paling kuat adalah sebagai alat komunikasi visual antarsesama burung. Meski demikian, teori tersebut sempat diragukan karena jambul kasuari tampak sangat kusam, hanya dipenuhi gradasi warna cokelat, abu-abu, atau hitam yang tidak menarik.

Namun, manusia kerap lupa burung tidak melihat dunia dengan cara yang sama. Kasuari memiliki kemampuan untuk mendeteksi cahaya ultraviolet (UV), sebuah spektrum warna yang berada di luar jangkauan penglihatan manusia. Berangkat dari fakta tersebut, tim peneliti yang dipimpin oleh Todd L. Green dari New York Institute of Technology College of Osteopathic Medicine (NYITCOM) melakukan sebuah eksperimen. Mereka menduga helm yang tampak membosankan di mata manusia mungkin terlihat sangat berbeda dalam spektrum cahaya yang digunakan oleh kasuari.

Untuk membuktikannya, Green dan timnya mengumpulkan 95 spesimen kepala kasuari dewasa dari museum serta sembilan burung yang masih hidup. Ketika lampu ultraviolet diarahkan ke jambul kusam tersebut, sebuah fenomena menakjubkan terjadi. Helm kasuari itu seketika memancarkan cahaya (biofluoresensi) biru-hijau elektrik yang sangat terang. Penemuan yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports ini menjadi catatan pertama dalam sejarah sains mengenai efek pendaran pada kasuari.

Sebagai langkah verifikasi, peneliti juga menguji kerabat dekat kasuari yang tidak memiliki jambul, seperti burung unta dan emu. Hasilnya, paruh mereka tetap gelap di bawah sinar UV, menegaskan bahwa pendaran misterius ini hanya dimiliki oleh kasuari. Uniknya, intensitas pendaran ini berbeda di setiap spesies. Kasuari gelambir-ganda (southern cassowary) dan kasuari gelambir-tunggal (northern cassowary) menyala terang di hampir seluruh bagian jambul, sementara kasuari kerdil (dwarf cassowary) yang memiliki helm hitam pekat hampir tidak memancarkan cahaya sama sekali.

Meskipun fungsi ekologis pendaran ini sebagai alat komunikasi langsung di alam liar masih memerlukan penelitian perilaku lebih lanjut, penemuan ini memberikan manfaat praktis yang instan bagi para peneliti. Pola fluoresensi yang unik pada setiap jambul tetap bertahan walau spesimen telah mati lama, sehingga memudahkan kurator museum mengidentifikasi spesies meskipun kulitnya telah memudar dikikis waktu. Di alam liar, teknologi lampu UV atau kamera jebak ber-flash UV juga dapat membantu memetakan populasi kasuari secara aman dari jarak jauh, tanpa harus mendekati burung raksasa yang terkenal mudah marah ini. (Earth/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *