
SESUATU yang tidak biasa tengah terjadi di Tiongkok. Berdasarkan data terbaru dari JPMorgan, permintaan minyak di Negeri Tirai Bambu tersebut anjlok sebesar 9% dibandingkan periode sebelum pecahnya perang Iran. Angka ini merupakan anomali ekonomi yang signifikan. Sebagai perbandingan, permintaan minyak global hanya turun 2% selama Resesi Hebat tahun 2008.
Meski angka tersebut terdengar seperti awal dari mimpi buruk ekonomi, Tiongkok nyatanya jauh dari ambang keruntuhan. Di tengah guncangan pasokan energi terbesar yang pernah ada dan fakta bahwa Tiongkok mengimpor 70% kebutuhan minyaknya serta berstatus sebagai pelanggan utama Iran, situasi energi di sana justru terlihat stabil.
Transisi Perilaku Konsumen: Dari Bensin ke Listrik
Penurunan permintaan itu bukan terjadi karena mandat penghematan bahan bakar dari pemerintah, melainkan akibat perubahan drastis pada perilaku konsumen. Masyarakat Tiongkok mulai meninggalkan kendaraan boros bensin dan beralih ke kendaraan listrik (EV) serta transportasi umum. Selain itu, tren perjalanan internasional mulai digantikan oleh destinasi regional yang lebih dekat.
Data dari Kementerian Transportasi Tiongkok menunjukkan bahwa pada awal libur Hari Buruh (Mei 2026), penggunaan pengisian daya EV di jalan raya melonjak 55,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Selama periode liburan tersebut, hampir seperempat kendaraan yang melintasi jalan raya Tiongkok adalah EV, naik 33% dari tahun lalu.
Catatan Redaksi: Perubahan ini diprediksi bersifat permanen. JPMorgan memperkirakan bahwa dari 180.000 barel permintaan bensin harian yang hilang di pasar Tiongkok, sekitar 70% tidak akan pernah kembali.
Fenomena Global dan Pelajaran dari Sejarah
Tren serupa mulai terlihat di Eropa. Registrasi mobil baru mencapai level tertinggi dalam tujuh tahun didominasi oleh kendaraan hibrida dan listrik. Hal ini didorong oleh harga listrik yang semakin terjangkau berkat investasi masif pada energi angin dan surya selama satu dekade terakhir. Sebaliknya, di Amerika Serikat, penjualan EV belum menunjukkan kenaikan signifikan setelah insentif pemerintah dicabut.
Kondisi saat ini mengingatkan pada krisis minyak tahun 1973. Sejarah mencatat bahwa guncangan pasokan sering kali meninggalkan jejak penurunan permintaan yang permanen. Pada era 70-an, dunia merespons dengan membentuk Badan Energi Internasional (IEA), meningkatkan jumlah pembangkit listrik tenaga nuklir, dan menetapkan standar efisiensi kendaraan yang lebih ketat.
Perang Iran mengurangi permintaan minyak global secara bertahap yaitu turun 2,8 juta barel per hari pada Maret, 4,3 juta pada April, dan mencapai 5,6 juta barel per hari pada Mei 2026. Meski sebagian permintaan mungkin akan kembali saat Selat Hormuz dibuka kembali, para analis meyakini dunia mungkin mencapai Peak Oil yakni titik ketergantungan pada minyak mentah mulai berkurang secara permanen.
Natasha Kaneva, Kepala Strategi Komoditas di JPMorgan, menyatakan bahwa sekali konsumen beralih ke EV, perubahan tersebut cenderung menetap. “Guncangan pasokan dan perang di masa lalu memberi pelajaran bagi rumah tangga dan bisnis yang tidak akan mudah dilupakan,” tambah Joe Brusuelas, kepala ekonom di RSM US.
Walaupun industri manufaktur dan plastik masih akan membutuhkan minyak dalam jangka pendek, pergeseran struktural di sektor transportasi Tiongkok dan Eropa menandakan bahwa dominasi emas hitam mulai memasuki masa senja. (CNN/I-2)
