
CHIEF Asia Economist HSBC Frederic Neumann menyatakan perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketangguhan yang signifikan di tengah berbagai gejolak global yang melanda saat ini. Ketahanan ini tercermin dari angka pertumbuhan ekonomi yang stabil dan kemampuan pemerintah dalam meredam dampak eksternal.
Neumann mengungkapkan bahwa pada semester pertama tahun 2026, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh sebesar 5,4 persen. HSBC memproyeksikan angka pertumbuhan yang sama untuk keseluruhan tahun ini, sementara untuk tahun depan diperkirakan sedikit melambat tetapi tetap kuat.
“Proyeksi kami untuk keseluruhan tahun berada di angka 5,4 persen. Sementara untuk tahun depan, kami memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,2 persen, sedikit melambat, tetapi tetap merupakan pertumbuhan yang sangat kuat di tengah kondisi gejolak ini,” ujar Neumann dalam agenda Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026 di Jakarta, Selasa (29/9).
Tiga Gejolak Utama Global
Menurut Neumann, saat ini dunia tengah menghadapi tiga tantangan besar yang memengaruhi stabilitas ekonomi banyak negara:
- Gejolak Energi: Harga solar global mencapai tingkatan tertinggi sepanjang sejarah.
- Tekanan Pangan: Fenomena El-Nino yang meningkatkan harga pangan dunia.
- Suku Bunga: Tren peningkatan suku bunga di berbagai negara untuk menekan inflasi.
Meski demikian, Indonesia dinilai mampu mengelola gejolak energi dengan baik melalui kebijakan subsidi dan pengelolaan harga yang tepat. Hal ini membuat dampak kenaikan harga energi terhadap konsumen domestik tidak seberat yang dialami negara-negara lain.
“Pemerintah Indonesia masih mampu menanggung kendali harga tersebut, dan hal ini menjadi jangkar penting bagi stabilitas perekonomian,” tambahnya.
Ketahanan Pangan dan Stabilitas Moneter
Terkait harga pangan, Neumann menyoroti inflasi pangan di Indonesia yang relatif rendah. Perbaikan sistem distribusi pangan nasional dianggap jauh lebih efektif dibandingkan periode El-Nino sebelumnya. Selain itu, status Indonesia sebagai eksportir netto pangan memberikan perlindungan tambahan dari ketergantungan impor.
Di sektor moneter, Indonesia dinilai sudah teruji menghadapi tingkat suku bunga tinggi. Sektor korporasi telah beradaptasi, sementara pemerintah tetap konservatif dalam mengelola utang dan defisit anggaran.
HSBC memperkirakan Bank Indonesia (BI) hanya perlu menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi. Bahkan jika Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga lebih tinggi, Indonesia dianggap tidak memerlukan pengetatan moneter lebih lanjut karena nilai tukar rupiah yang relatif stabil.
“Dalam beberapa minggu terakhir, kita telah melihat kembalinya aliran modal masuk (capital inflows) ke Indonesia seiring dengan makin yakinnya investor asing terhadap stabilitas makroekonomi yang terjaga di negara ini,” pungkas Neumann.
Keyakinan investor juga didukung oleh proyeksi defisit anggaran yang diperkirakan berada jauh di bawah target 3 persen untuk tahun depan, memberikan kepastian fiskal yang kuat bagi pasar global. (Ant/I-2)
