
AKTIVITAS di luar ruangan selama sedikitnya dua jam setiap hari dapat membantu menjaga kesehatan mata anak sekaligus mendukung tumbuh kembangnya secara optimal. Hal itu disampaikan dokter spesialis mata lulusan Universitas Padjadjaran, dr. Tri Wahyu, Sp.M,.
Menurut Tri, kegiatan luar ruangan memberikan berbagai manfaat bagi anak. Selain mendukung pertumbuhan fisik, aktivitas tersebut juga berperan dalam perkembangan sosial, kesehatan tulang, serta fungsi penglihatan.
Ia menganjurkan orang tua untuk membiasakan anak melakukan aktivitas di luar rumah setidaknya dua jam setiap hari. Waktu pagi hari dinilai menjadi pilihan yang baik karena anak dapat bergerak aktif sambil mendapatkan paparan sinar matahari.
“Tujuannya adalah selain mendukung tumbuh kembang si anak, juga akan mempengaruhi aspek seperti sosial, perkembangan fungsi penglihatan anak dan dukungan untuk pertumbuhan tulang,” kata Tri dikutip dari laman Antara.
Anak dengan Mata Minus Dianjurkan Lebih Sering Beraktivitas di Luar
Tri menjelaskan, aktivitas luar ruangan juga bermanfaat bagi anak yang mengalami rabun jauh atau miopia. Menurutnya, semakin sering anak melakukan kegiatan di luar rumah, semakin besar peluang untuk mengurangi risiko bertambahnya minus mata.
Selain itu, kebiasaan bermain di luar ruangan dapat membantu mengurangi durasi penggunaan gawai yang kini semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari anak.
Paparan layar dalam waktu lama diketahui dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan mata.
Beberapa di antaranya adalah miopia atau rabun jauh, astigmatisme (mata silinder), mata lelah atau astenopia, sakit kepala, leher kaku, hingga computer vision syndrome atau sindrom ketegangan mata digital.
Tri mengatakan kebiasaan melihat layar dalam jarak dekat secara terus-menerus dapat memicu perubahan pada bola mata. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko terjadinya miopia atau memperburuk minus mata yang sudah ada.
“Screen time yang lama ini justru meningkatkan risiko matanya menjadi miopia atau minus karena jarak melihat dekat yang sering dan lama menyebabkan adanya rangsangan pada bola mata tumbuh lebih panjang,” ujarnya.
Penggunaan Gawai Tidak Menyebabkan Mata Malas
Tri juga meluruskan anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa penggunaan gawai berlebihan dapat menyebabkan mata malas atau ambliopia. Menurutnya, kondisi mata malas tidak berkaitan langsung dengan penggunaan layar digital. Gangguan tersebut terjadi karena fungsi saraf mata dan pusat penglihatan di otak tidak berkembang secara optimal saat masa pertumbuhan anak.
Akibatnya, kemampuan melihat menjadi terganggu dan mata dapat tampak sayu atau seperti mengantuk. Karena itu, penanganan mata malas memerlukan pemeriksaan dan terapi yang berbeda dengan gangguan penglihatan akibat penggunaan gawai.
Sumber: Antara
