
BANYAK orang percaya kembali ke jadwal tidur teratur setelah menjalani waktu tidur yang berantakan dapat memulihkan kondisi tubuh sepenuhnya. Asumsinya, jam biologis yang sempat kacau akan otomatis membaik. Namun, sebuah penelitian terbaru pada tikus menunjukkan fakta sebaliknya, kerusakan otak akibat pola tidur tidak teratur di masa muda bisa bersifat permanen.
Studi yang dipimpin Dr. Karienn A. de Souza bersama David Earnest dari Texas A&M University (TAMU) ini menguji apakah gangguan ritme sirkadian (jam biologis) saja cukup untuk mempercepat penurunan kognitif. Hasil riset mengejutkan ini telah diterbitkan dalam The Journal of Neuroinflammation.
Dalam eksperimennya, sekelompok tikus dewasa muda ditempatkan dalam siklus jadwal tidur berputar selama 80 hari, mirip dengan pola pekerja shift. Setelah itu, tikus-tikus tersebut dikembalikan ke jadwal tidur normal selama tujuh bulan. Saat memasuki usia paruh baya, fungsi otak mereka diuji.
Penuaan Kognitif yang Dipercepat
Hasil pengujian memori spasial menunjukkan tikus yang memiliki riwayat tidur berantakan mengalami kesulitan besar saat melintasi labirin. Skor kognitif mereka merosot tajam, setara dengan tikus yang berusia dua kali lipat lebih tua.
Meskipun tikus-tikus tersebut telah hidup dengan jadwal tidur normal dan stabil selama tujuh bulan sebelum pengujian, penurunan fungsi otak tetap terjadi. Gangguan tidur di masa muda terbukti mempercepat penuaan mental hingga hitungan bulan dalam usia tikus.
Peradangan Kronis pada Sistem Imun dan Otak
Peneliti menemukan biang keladi dari kerusakan ini adalah sistem imun yang terlalu aktif. Tikus dengan riwayat tidur berantakan memiliki sel B (sel darah putih) 40% lebih banyak di limpa mereka, yang memicu sinyal peradangan kronis.
Kondisi meradang ini juga merembet ke membran otak dan memengaruhi mikrogia, sel imun pelindung di dalam hipokampus (pusat memori). Pada tikus yang tidurnya terganggu, mikrogia berubah bentuk menjadi lebih besar, bulat, dan kusut. Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai stress-primed (terpapar stres), sebuah fase di mana sel imun tidak lagi berfungsi optimal untuk membersihkan kerusakan di otak.
Menariknya, perubahan ini terjadi murni karena gangguan jam biologis, tanpa adanya faktor pemicu lain seperti obesitas atau risiko genetik.
Evaluasi Dini Risiko Demensia
Menurut Souza, sekitar 97% risiko Alzheimer berasal dari faktor lingkungan, bukan genetik. Hal ini menempatkan keteraturan tidur sebagai faktor gaya hidup yang sangat krusial, setara dengan pola makan dan olahraga.
Temuan ini membuka peluang bagi dunia medis untuk menggeser pencegahan demensia ke usia yang jauh lebih muda. Jika dampak pada manusia terbukti sama, pemeriksaan pola tidur bisa mendahului deteksi dini gejala demensia yang biasanya baru muncul puluhan tahun kemudian. Saat ini, tim Souza sedang menguji metode intervensi sel punca untuk mencegah sel otak memasuki fase stres tersebut sebelum penurunan kognitif terjadi. (Earth/Z-2)
