Boneka Unta Gantikan Emas, Kisah Kakek Kulasse dan Buah Tangan Baru Jemaah Haji Makassar
Kulasse, 62, jemaah haji asal Desa Baringeng, Soppeng, Sulawesi Selatan, mengalungkan sembilan boneka unta buah tangan dari Tanah Suci untuk kesembilan cucu-cucunya saat tiba di Indonesia, Senin (1/6/2026).(MI/Lina Herlina)

JARUM jam hampir berganti tengah malam. Pukul 23.30 Wita, iring-iringan bus pengangkut jemaah haji Kelompok Terbang 1 (Kloter 1) Embarkasi-Debarkasi Makassar mulai merayap masuk ke Asrama Haji Sudiang. Ratusan pasang mata tampak lelah namun tidak mampu menyembunyikan kilau bahagia. 

Di tengah rombongan yang biasa pulang dengan gegat atau perhiasan emas, seorang kakek berusia 62 tahun justru mencuri perhatian. Bukan karena pakaiannya yang sederhana tanpa gamis, tanpa serban, melainkan karena leher dan tas sampingnya dihias sembilan boneka unta yang bergantungan lucu. 

Ia adalah Kulasse, 62, warga Desa Baringeng, Soppeng. Dan sembilan boneka itu, satu untuk setiap cucunya yang menanti di rumah.

Senin (1/6) malam itu, Asrama Haji Sudiang menyaksikan pemandangan berbeda. Di antara 391 jemaah asal Soppeng yang tiba, tidak sedikit yang mengalungkan boneka unta kecil, sedang, hingga yang sebesar lengan anak-anak. 

Dulu, oleh-oleh khas jemaah haji identik dengan emas batangan, parfum mahal, atau sajadah beludru. Kini, unta berbulu imut itu seolah menjadi simbol baru, buah tangan yang lebih personal, lebih dekat ke hati.

Kulasse, sang kakek, tersenyum lelah namun sumringah saat ditanya soal boneka-boneka itu. Ia baru saja menuntaskan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. “Kondisinya sehat, ibadahnya lancar dan memuaskan”, katanya. 

Namun yang paling membekas bukanlah padang Arafah atau lempar jumrah, melainkan panggilan video setiap malam dari kampung halaman.

“Cucu saya yang paling tua kelas dua SD, setiap hari telepon, minta dibelikan boneka unta. Dia memang suka unta. Untuk cucu. Ada sembilan cucu, jadi sembilan ini semua,” ujar Kulasse dengan mata berbinar.

Boneka-boneka itu ia gendong dari hotel di Arab Saudi, ke bandara, lalu dikalungkan di leher saat di pesawat, sengaja agar tak tercecer. Setibanya di Makassar, boneka itu tetap setia bertengger di tas sampingnya.

Cerita serupa datang dari Anugrah, 28, jemaah asal Soppeng lainnya. Ia mengaku tidak lepas dari sambungan telepon ponakannya selama di Tanah Suci. “Tiap hari video call. Yang besar harga Rp200.000, yang kecil Rp150.000. Dari hotel ke bandara saya kalungkan, di pesawat simpan di atas,” katanya dini hari tadi.

Kedatangan Kloter 1 ini merupakan gelombang pertama pemulangan jemaah haji Sulawesi Selatan. Mereka disambut oleh Asisten I Pemprov Sulsel Ishak Iskandar, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sulsel Ikbal Ismail, dan Wakil Bupati Soppeng Selle KS Dalle. 

Secara keseluruhan, Embarkasi Makassar merencanakan pemberangkatan 16.728 jemaah dan petugas, namun 22 calon jemaah belum bisa berangkat karena sakit, hamil, wafat, atau tunda keberangkatan.

Di sela penyambutan, para petugas juga mengimbau jemaah agar tidak membuang kartu kesehatan. Kartu tersebut penting sebagai kartu kontrol kesehatan pasca-ibadah haji.

Ketua PPIH Embarkasi-Debarkasi Makassar, H. Ikbal Ismail, menyampaikan rasa syukur. 

“Penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 berjalan dengan baik,” ujarnya, seraya mengapresiasi seluruh petugas yang mendampingi jemaah sejak keberangkatan hingga pemulangan.

Jam menunjukkan lewat tengah malam. Satu per satu jemaah melangkah bersiap kembali ke kampung halaman. Di pundak dan leher mereka, boneka unta bergoyang lucu, bukan sekadar mainan, melainkan utusan rindu dari Tanah Suci. (LN/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *