Perubahan Nama PCOS Menjadi PMOS Dorong Deteksi Dini Gangguan Hormonal
Perubahan nama PCOS menjadi PMOS dalam deteksi dini risiko kista ovarium pada perempuan.(Dok. Magnific)

KETUA Himpunan Kedokteran Fetomaternal Indonesia (HKFI), Prof Alamsyah Aziz, menyatakan perubahan nama Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) menjadi Polyfollicular Multisystem Syndrome (PMOS) bertujuan membantu masyarakat melakukan deteksi dini. Perubahan istilah ini diharapkan dapat meluruskan kesalahpahaman yang selama ini menganggap kondisi tersebut hanya berkaitan dengan kista ovarium.

Alamsyah menjelaskan bahwa perubahan nama ini pada dasarnya tidak mengubah jenis penyakit, metode pengobatan, maupun prognosis pasien. Fokus utama dari perubahan ini adalah cara memahami dan menjelaskan kondisi medis tersebut kepada publik agar lebih akurat secara ilmiah.

“Dengan nama baru PMOS, masyarakat diharapkan lebih memahami bahwa kondisi ini merupakan gangguan yang melibatkan banyak sistem tubuh, bukan hanya ovarium,” ujar Alamsyah saat dihubungi, Senin (1/6).

Selama ini, istilah PCOS sering kali menyesatkan karena tidak semua pasien memiliki kista pada ovariumnya. Keluhan utama yang sering muncul justru meliputi haid tidak teratur, gangguan kesuburan, jerawat, pertumbuhan rambut berlebih, hingga masalah metabolisme seperti obesitas dan diabetes.

Menurut Alamsyah, PMOS lebih menekankan pada gangguan hormonal dan metabolik yang memengaruhi berbagai organ tubuh. Risiko jangka panjang dari kondisi ini cukup serius, mencakup resistensi insulin, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, gangguan tidur, hingga masalah kesehatan mental.

Bagi pasien di Indonesia, terminologi baru ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran untuk memeriksakan diri lebih awal guna mendapatkan penanganan komprehensif. “Nama PMOS dianggap lebih sesuai dengan pengetahuan ilmiah saat ini karena tidak semua pasien memiliki ovarium yang tampak polikistik pada USG,” tambahnya.

Ia berpesan agar perempuan yang mengalami gejala seperti siklus haid tidak teratur, sulit hamil, atau peningkatan berat badan yang drastis segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan. Deteksi dini menjadi kunci utama agar gangguan multisistem ini dapat ditangani dengan baik sebelum menimbulkan komplikasi lebih lanjut.

“Yang terpenting bukanlah pergantian namanya, tetapi pemahaman bahwa kondisi ini dapat dideteksi dan ditangani dengan baik,” pungkas Alamsyah. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *