
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa hasil asesmen akademik peserta didik melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 harus menjadi fondasi utama dalam merumuskan kebijakan perbaikan sistem pendidikan nasional. Menurutnya, komitmen kolektif dari seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mewujudkan perubahan nyata.
“Data rinci hingga tingkat sekolah dan kompetensi individu sudah di tangan. Pertanyaannya sekarang, apakah kita semua, pemerintah pusat, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, hingga orang tua, benar-benar siap mengubah pola pengajaran dan pendampingan?” ujar Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/5).
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), TKA 2026 diikuti oleh lebih dari 8,7 juta murid SD dan SMP di seluruh Indonesia. Tingkat partisipasi nasional tercatat sangat tinggi, mencapai 98,51%, dengan capaian di setiap provinsi tetap berada di atas angka 95%.
Hasil asesmen tersebut memotret kondisi literasi dan numerasi nasional secara gamblang. Rata-rata skor literasi berada di angka 60 untuk tingkat SD dan 60,83 untuk SMP. Namun, sektor numerasi masih menjadi tantangan besar dengan skor hanya 43,41 (SD) dan 40,34 (SMP). Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Toni Toharudin, pada Selasa (26/5), telah memastikan data ini akan menjadi pijakan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).
Lestari, yang akrab disapa Rerie, menekankan bahwa temuan ini bukan bertujuan untuk membandingkan kualitas antar-sekolah atau daerah, melainkan untuk mendesain intervensi yang presisi. Ia mencontohkan, jika di suatu wilayah kemampuan numerasi siswa rendah namun literasinya baik, maka fokus bimbingan teknis guru dan distribusi alat peraga harus disesuaikan dengan kebutuhan spesifik tersebut.
“Tidak boleh ada kebijakan yang seragam untuk masalah yang berbeda-beda,” tegas Anggota Komisi X DPR RI tersebut.
Lebih lanjut, Rerie mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk mengalokasikan anggaran yang memadai bagi program remedial berbasis data, bukan sekadar membiayai pelaksanaan tes. Ia juga mengingatkan satuan pendidikan dan guru untuk beralih dari orientasi mengejar nilai menuju pembangunan kompetensi, karakter, nalar, serta integritas siswa.
Di sisi lain, peran orang tua dianggap krusial dalam mendukung proses belajar yang bermakna di rumah tanpa terpaku pada peringkat. “Sistem pendidikan kita butuh komitmen kolektif yang kuat untuk menjalankan kebijakan berdasarkan bukti, bukan berdasarkan ambisi sesaat. TKA sudah memberi kita peta jalan, sekarang kita semua harus berani melangkah,” pungkas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem tersebut. (RO/Z-10)
