AS Serang Iran Kedua Kali dalam Sepekan, Jatuhkan Empat Drone
Ilustrasi.(Magnific)

KETEGANGAN di Timur Tengah kembali memanas setelah pasukan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap target militer Iran untuk kedua kali dalam pekan ini. Insiden ini terjadi di tengah rapuhnya kesepakatan gencatan senjata dan upaya diplomatik untuk memulihkan aliran energi global yang terganggu akibat konflik di Selat Hormuz.

Pejabat militer AS mengonfirmasi bahwa pasukannya menembak jatuh empat drone Iran yang diarahkan ke kapal komersial dan menghancurkan unit peluncur rudal di dekat Selat Hormuz. Meski serangan tersebut diklaim sebagai tindakan defensif, Iran membalas dengan menargetkan pangkalan AS, sebagaimana dilaporkan oleh media pemerintah Press TV.

Di saat yang sama, Kuwait melaporkan telah mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk mencegat target musuh yang mengancam wilayahnya. Rangkaian insiden ini mempertegas betapa sulitnya mencapai kesepakatan damai yang permanen di wilayah tersebut.

Dampak Ekonomi Global dan Harga Minyak

Penutupan efektif Selat Hormuz sejak pecahnya perang pada akhir Februari memangkas sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Hal ini memicu lonjakan inflasi yang mengancam pertumbuhan ekonomi global.

Pada perdagangan Kamis (28/5), harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga 4% ke level US$98,20 per barel. Meskipun angka ini lebih rendah dari puncak US$126 pada bulan lalu, harga saat ini masih sepertiga lebih tinggi dibandingkan sebelum perang dimulai. Sementara itu, kontrak berjangka gas alam Eropa tercatat 50% lebih tinggi.

Pernyataan Donald Trump:
“Selat Hormuz adalah perairan internasional. Selat ini akan terbuka untuk semua orang dan AS akan mengawasinya. Mungkin kita harus kembali ke sana dan menyelesaikannya,” tegas Presiden Donald Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih.

Kebuntuan Negosiasi

Meskipun mediator dari Pakistan dan Qatar melaporkan ada kemajuan dalam pembicaraan, kesepakatan akhir masih sulit dicapai. Terdapat beberapa poin krusial yang menjadi penghambat:

  • Kontrol Selat Hormuz: Trump menegaskan tidak boleh ada satu negara pun yang menguasai jalur pelayaran vital tersebut.
  • Aset yang Dibekukan: Iran menuntut pencairan dana sebesar US$12 miliar sebagai bagian dari nota kesepahaman (MoU) interim.
  • Sanksi Ekonomi: AS bersikeras tidak akan melonggarkan sanksi sampai Iran menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan.
  • Tekanan Domestik: Trump berada di antara tuntutan bantuan finansial dari Iran dan tekanan dari kelompok garis keras Republik yang memintanya untuk tidak menandatangani kesepakatan buruk.

Kementerian Keuangan AS juga mengambil tindakan terhadap Otoritas Selat Teluk Persia Iran dengan tuduhan melakukan pemerasan terhadap kapal-kapal yang melintas. Iran dilaporkan menetapkan aturan baru yang mewajibkan pelaut membayar hingga US$2 juta atau sekitar Rp34 miliar untuk jaminan lintasan aman.

Kondisi di lapangan tetap mencekam. Selain insiden drone, militer AS dilaporkan menewaskan beberapa tentara Iran yang diduga tengah memasang ranjau di dekat selat pada Senin malam. Di sisi lain, eskalasi serangan Israel di Libanon turut memperumit peta diplomasi antara Washington dan Teheran dalam mencapai kesepakatan damai jangka pendek. (Bloomberg/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *