
KEMENTERIAN Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menekankan pentingnya penerapan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) sebagai tindak lanjut atas hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Langkah ini diambil guna merespons masih lebarnya variasi kemampuan siswa antardaerah maupun antarsekolah di Indonesia.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menjelaskan bahwa data besar yang dihasilkan dari hasil TKA 2026 menjadi instrumen krusial untuk memetakan mutu pembelajaran secara nasional.
“Terkait dengan Teaching at the Right Level, para guru bisa memahami bagaimana kondisi awal dari para siswanya, dan bagaimana cara melakukan peningkatan kualitas terhadap muridnya itu,” ujar Toni dalam konferensi pers hasil TKA 2026 di Jakarta, Selasa (26/5).
Transformasi Pelatihan Guru
Menyikapi hasil asesmen tersebut, pemerintah berencana mengubah pola pelatihan guru agar lebih relevan dengan kebutuhan riil siswa di lapangan. Toni menyebutkan bahwa pelatihan nantinya akan difokuskan melalui metode teacher experiential training.
Selain itu, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) telah mulai memberikan pembekalan kepada pendamping, pengawas, hingga kepala sekolah untuk berperan sebagai mentor dalam perbaikan kualitas pembelajaran.
“Ini akan dilakukan secepatnya untuk mengubah pola pelatihan yang akan dilakukan terhadap guru-guru kita,” tegasnya.
Bukan untuk Pemeringkatan
Di sisi lain, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, menegaskan bahwa hasil TKA 2026 tidak dirancang untuk memberikan label negatif atau membuat peringkat antarwilayah dan sekolah. Sebaliknya, data tersebut harus menjadi fondasi dalam menyusun strategi pembelajaran yang berdiferensiasi.
“Kalau sangat kontras, strategi pembelajarannya sama pasti tidak tepat sasaran. Jadi perlu ada strategi pembelajaran yang berbeda,” kata Rahmawati.
Ia memaparkan bahwa hasil TKA menunjukkan disparitas yang nyata; terdapat wilayah dengan mayoritas siswa berkategori baik, namun ada pula daerah yang sebagian besar siswanya masih berada pada kategori kurang dan memadai.
Sekolah diharapkan memanfaatkan hasil TKA sebagai asesmen awal untuk memetakan kemampuan murid baru. Jika mayoritas murid berada di kategori baik, sekolah dapat langsung menerapkan kurikulum kelas 10. Namun, jika masih banyak yang kurang, guru wajib mengulang kembali konsep-konsep esensial.
Rata-Rata Nasional Hasil TKA 2026
Berdasarkan data yang dirilis, rerata nasional untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia pada jenjang SD dan SMP sederajat berada di kisaran angka 60. Sementara itu, capaian untuk mata pelajaran Matematika masih menjadi tantangan besar, terutama di tingkat SMP yang reratanya berada di kisaran angka 40.
Pelaksanaan TKA 2026 sendiri mencatatkan tingkat partisipasi yang sangat tinggi, yakni mencapai 98,51% atau diikuti oleh lebih dari 8,7 juta murid di seluruh Indonesia. (H-3)
