Hiu Air Tawar Nyaris Punah Ditemukan di Sungai Sesayap Kaltara
ilustrasi(Wikimedia Commons)

Sebuah penemuan fenomenal terkait keberadaan hiu air tawar yang nyaris punah baru saja diumumkan oleh tim peneliti gabungan. Populasi Hiu Gangga (Glyphis gangeticus), spesies hiu air tawar yang selama puluhan tahun dianggap nyaris punah dari perairan dunia, ditemukan kembali di perairan Indonesia, tepatnya di Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.

Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Universitas Hasanuddin (Unhas), James Cook University (Australia), dan Universitas Borneo Tarakan. Temuan ini menjadi angin segar bagi dunia konservasi internasional mengingat kelangkaan ekstrem spesies tersebut.

Temuan 43 Spesimen dalam Tiga Minggu

Data historis menunjukkan bahwa sejak tahun 2000, kemunculan Hiu Gangga tercatat kurang dari sepuluh kali di seluruh wilayah persebaran aslinya, yang meliputi kawasan dari Pakistan hingga Myanmar. Kondisi ini membuat International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkannya dalam kategori Critically Endangered (Sangat Terancam Punah).

Namun, penelitian lapangan yang dilakukan pada tahun 2023 memberikan hasil yang mengejutkan. Hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu, tim peneliti berhasil mengamati 43 spesimen Hiu Gangga di Sungai Sesayap. Angka ini mengukuhkan kawasan tersebut sebagai salah satu habitat tersisa yang paling krusial bagi keberlangsungan hidup spesies ini.

Fakta Penting: Sungai Sesayap kini telah ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area (ISRA) pada tahun 2024. Pengakuan internasional ini menegaskan peran sungai tersebut sebagai daerah asuhan (nursery ground) utama bagi hiu sungai yang sangat langka.

Model Konservasi Berbasis Masyarakat

Perwakilan Rektor Unhas, Prof. Rohani Ambo Rappe, menyatakan bahwa temuan ini bukan sekadar pencapaian ilmiah di atas kertas. Menurutnya, keterlibatan Unhas sejak 2022 dalam riset ini bertujuan membangun model konservasi yang adil dan kolaboratif.

“Temuan ini adalah tentang bagaimana kita membangun model konservasi yang dapat diterima masyarakat. Kami mendorong lahirnya konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar penguatan data ilmiah dan kebijakan dapat berjalan beriringan,” ujar Prof. Rohani dalam keterangannya di Makassar, Senin (25/5).

Ia menambahkan bahwa riset ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perguruan tinggi dalam menghadirkan sains yang berdampak langsung pada persoalan lingkungan global. Masyarakat lokal diharapkan menjadi bagian penting dari solusi perlindungan habitat di Sungai Sesayap.

Harapan Baru Biodiversitas Indonesia

Peneliti dari James Cook University, Michael Grant, menekankan pentingnya status ISRA bagi Sungai Sesayap. Dengan adanya pengakuan ini, perlindungan terhadap ekosistem sungai di Kalimantan Utara diharapkan menjadi prioritas nasional maupun internasional.

Penemuan kembali Hiu Gangga di Kalimantan Utara membuktikan bahwa Indonesia masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa dan menjadi benteng terakhir bagi spesies-spesies yang dianggap telah hilang dari peta dunia. Kolaborasi lintas negara dan pelibatan akademisi lokal menjadi kunci utama dalam membuka ruang harapan bagi penyelamatan ekosistem air tawar di masa depan. (Ant/E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *