Indonesia Tempati Rangking Keempat di ASEAN dalam Industri MICE
Bank Indonesia dalam Indonesia Tourism Outlook 2025 2026 mengungkapkan, penyelenggaraan MICE akan terus berkembang dengan kualitas yang berstandar internasional, sehingga dapat berdampak luas bagi ekonomi. Penyelenggaraan MICE akan didukung standar teknis(Dok Istimewa)

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan pendapatan dari sektor Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE) ke kas negara naik hingga 15% pada 2029. Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenpar Vinsensius Jemadu menjelaskan, industri pariwisata di Indonesia saat ini memiliki tiga portofolio utama. Pertama, wisata budaya yang berkontribusi sebesar 60%, wisata alam berkontribusi 30% dan sektor penyelenggaraan kegiatan berkontribusi 10%.

Capaian di sektor penyelenggaraan kegiatan itu membuat posisi Indonesia dalam industri MICE menempati urutan ke-37 dunia dan ke-4 di kawasan ASEAN. Salah satu kunci agar posisi Indonesia meningkat, jumlah penyelenggaraan MICE di Tanah Air terus bertambah.

“Jadi kita inginkan supaya kontribusi dari MICE terhadap devisa ini semakin besar, sehingga nanti suatu saat itu kontribusinya bukan lagi 10 persen. Itu bisa jadi 15 persen. Kami juga ingin memperbanyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat melalui penguatan industri MICE,” kata Vinsensius, belum lama ini.

Sementara, Bank Indonesia dalam Indonesia Tourism Outlook 2025 2026 mengungkapkan, penyelenggaraan MICE akan terus berkembang dengan kualitas yang berstandar internasional, sehingga dapat berdampak luas bagi ekonomi. Penyelenggaraan MICE akan didukung standar teknis yang ketat dengan tingkat kenyamanan bagi penonton, efisiensi operasional event, aksesibilitas moda transportasi, dan jaminan keamanan atau manajemen risiko.

Pemain industri pameran internasional kini juga mulai memasuki Indonesia, termasuk dengan pembentukan perusahaan patungan dengan pemain lokal. Salah satunya, Koelnmesse, perusahaan Jerman  penyelenggara 80 pameran dagang. Korporasi yang telah berusia 102 tahun itu menggaet pelaku industri pameran lokal yaitu Amara Pameran Internasional dengan mendirikan perusahaan patungan PT. Nine Koeln Indonesia.

Managing Director PT. Nine Koeln Indonesia Etty Anggraeni, menyatakan kolaborasi itu diawali dengan penyelenggaraan Indonesia Dental Exhibition & Conference (IDEC) pada 2017, pameran industry furnitur dan desain interior, interzum jakarta pada 2024, juga International Hardware Fair Indonesia pada 2025. Selain itu, sejak 2020, Amara juga menjadi mitra penjualan resmi berbagai pameran yang diselenggarakan Koelnmesse.

Pada 2026, kolaborasi ini berlanjut dengan penyelenggaraan edisi ke-2 interzum Jakarta, International Hardware Fair Indonesia yang memamerkan peranti yang terkait dalam industri itu, Iffina yaitu pameran furnitur dan kerajinan, serta Ifmac Woodmac yang berfokus pada manufaktur berbasis kayu dan furnitur. Kecuali Ifmac Woodmac yang diselenggarakan pada 23-26 September 2026, ketiga pameran lainnya digelar pada 24-27 September 2026.

Di seluruh kawasan Asia-Pasifik sendiri, Koelnmesse menyelenggarakan sekitar  20 pameran dagang. Sementara pada total 80 pameran dagang yang diselenggarakan di seluruh dunia, peserta yang terjaring mencapai 49.000 peserta dari 129 negara dan sekitar 2,5 juta pengunjung dari lebih dari 200 negara. 

Dalam Peraturan Menteri Pariwisata No 5 Tahun 2017 tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran disebutkan MICE merupakan kegiatan yang melibatkan berbagai sektor industry seperti sektor transportasi, perjalanan, rekreasi, akomodasi, makanan dan minuman, tempat penyelenggaraan acara, teknologi informasi, perdagangan, keuangan, sehingga MICE dapat digambarkan sebagai industri multiplier effect yang dapat menggerakkan roda perekonomian pada daerah tujuan wisata atau destinasi. (X-6)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *