
UNIVERSITAS Tanjungpura (Untan) diminta tindak tegas pelaku yang gunakan Kecerdasan Buatan (AI) atau deepfake mengedit foto vulgar antar mahasiswa di lingkungan kampus.
“Kampus memang harus bersikap tegas untuk menunjukkan zero tolerance terhadap segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan digital seperti deepfake pornografi. Jangan sampai karena tidak ada kontak fisik lalu dianggap sepele,” kata Pengamat Pendidikan Indonesia Education Monitoring Centre (IEMC) Ina Liem saat dihubungi, Sabtu (16/5).
Menurutnya sikap tegas penting bukan hanya untuk menghukum pelaku, tapi juga memberi rasa aman kepada mahasiswa lain bahwa kampus hadir melindungi mereka.
“Karena kalau responsnya terlalu lunak atau sekadar mediasi, pesan yang muncul justru berbahaya, seolah tindakan seperti ini masih bisa ditoleransi,” ungkapnya.
Selain penegakkan aturan, kampus juga perlu memastikan korban mendapat pendampingan psikologis dan perlindungan privasi.
Kasus ini juga harus jadi momentum edukasi besar tentang etika penggunaan AI dan jejak digital. Teknologi makin canggih, tapi tanpa karakter dan empati, teknologi bisa berubah jadi alat kekerasan.
Deepfake pornografi dinilai juga termasuk kekerasan digital dan pelanggaran martabat seseorang. Korbannya bisa mengalami trauma psikologis, rasa malu, kehilangan rasa aman, bahkan takut bersosialisasi atau kuliah.
“Apalagi di usia mahasiswa, ketika identitas diri dan masa depan sedang dibangun,” ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, mahasiswa Fakultas Matematika dan IPA (MIPA) Untan berinisal RY diduga menggunakan AI/deepfake untuk menedit foto teman-temannya sesama mahasiswa menjadi foto vulgar.
Kasus itu terungkap saat sedang melakukan praktikum mata kuliah Sistematika Mikroba. Teman RY meminjam ponselnya untuk mendokumentasikan hasil praktikum.
Namun ketika teman RY membuka galeri untuk mengecek hasil dokumentasi betapa terkejutnya ia menemukan banyak foto vulgar yang merupakan teman-teman perempuannya yang diduga merupakan foto edit dengan AI.
Ina menilai kasus ini merupakan isu serius tentang keamanan digital, etika, dan perlindungan mahasiswa. Apalagi teknologi AI sekarang makin mudah diakses.
“Kalau tidak ditangani tegas, bisa menjadi budaya toxic, merasa bebas memanipulasi tubuh dan wajah orang lain tanpa consent,” pungkasnya. (H-2)
