Ahli Gizi Sebut MBG Penting untuk Penuhi Kebutuhan Nutrisi Anak
ilustrasi(Antara)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai bukan sekadar pembagian makanan di sekolah, tetapi menjadi intervensi strategis untuk membantu memutus rantai persoalan gizi pada kelompok rentan, khususnya anak-anak usia sekolah.

Hal tersebut disampaikan perwakilan Bidang Ilmiah Persatuan Ahli Gizi Indonesia Dewan Pimpinan Cabang Kota Surakarta, Dewi Marfuah, yang juga merupakan dosen Program Studi S1 Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah PKU Surakarta.

Menurut Dewi, masih banyak anak sekolah yang berangkat belajar tanpa sarapan akibat keterbatasan ekonomi keluarga.

“Harapannya, program MBG ini bisa menggantikan satu kali waktu makan yang sering hilang, terutama sarapan,” ujar Dewi di Jakarta, Kamis (15/5/2026).

Ia mengatakan pengalaman saat melakukan pengabdian masyarakat di sekolah menunjukkan jumlah siswa yang tidak sarapan sering kali lebih banyak dibanding siswa yang sarapan sebelum berangkat sekolah. Dewi menjelaskan program MBG dirancang untuk memenuhi sekitar seperempat hingga sepertiga kebutuhan gizi harian anak.

Menu yang diberikan mencakup karbohidrat, lauk hewani, lauk nabati, sayuran, hingga buah agar siswa memiliki energi cukup untuk belajar dan berkonsentrasi selama di sekolah.

“Dengan menu gizi seimbang, siswa diharapkan memiliki energi cukup untuk berkonsentrasi belajar tanpa rasa lemas,” katanya.

Pernyataan tersebut juga diperkuat data Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) yang menunjukkan 81 persen keluarga rentan mendukung keberlanjutan program MBG karena dinilai membantu memastikan pemenuhan nutrisi anak sekolah.

Salah satu orang tua siswa, Adriana Hedmunrewa, mengaku anaknya mengalami perubahan positif setelah mengikuti program MBG. Menurut Adriana, anaknya menjadi lebih aktif, semangat belajar, dan menunjukkan peningkatan nilai akademik.

“Sekarang dia belajar matematika sudah bisa sendiri. Ketika menerima rapor, nilainya meningkat rata-rata delapan. Fisik juga terlihat lebih segar dan berenergi,” ujarnya.

Sasar Ibu Hamil dan Pencegahan Stunting

Selain menyasar anak sekolah, Dewi mengatakan keberlanjutan program melalui Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) juga ditujukan bagi kelompok rentan lain seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Menurutnya, pemberian makanan bergizi secara rutin menjadi langkah penting untuk menekan angka stunting di Indonesia.

“Kita tidak ingin melihat lagi ada ibu hamil yang kurus karena nutrisinya habis terserap janin tanpa ada asupan pengganti yang memadai,” kata Dewi.

Ia menambahkan pemberian makanan bergizi untuk balita secara konsisten jauh lebih efektif dibanding hanya mengandalkan pemberian makanan tambahan sesekali di Posyandu.

Terkait kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan pangan dan risiko makanan basi, Dewi menjelaskan setiap unit SPPG wajib memiliki ahli gizi yang bertanggung jawab terhadap kualitas makanan. Menurutnya, standar operasional pengolahan dan distribusi makanan juga diperketat untuk mencegah makanan rusak sebelum dikonsumsi.

“Ada rentang waktu ketat antara proses pengolahan hingga makanan dikonsumsi untuk mencegah makanan basi akibat pengemasan saat panas,” ujarnya.

Selain itu, guru juga disebut berperan sebagai tester sebelum makanan dibagikan kepada siswa untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan. Dewi turut mendorong keterlibatan orang tua dan guru dalam memberikan masukan terkait menu makanan maupun tingkat penerimaan siswa terhadap makanan yang diberikan.

“Ahli gizi di lapangan bertugas melakukan edukasi dan memantau food waste atau sisa makanan. Jika sisa makanan banyak, berarti ada yang harus dievaluasi dari menu tersebut,” katanya.

Ia menegaskan keberhasilan program MBG membutuhkan pengawasan dan dukungan bersama agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh sehat, cerdas, dan kompetitif di masa depan. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *