
HARAPAN warga Haiti untuk lepas dari cengkeraman geng kriminal kembali diuji. Setelah misi keamanan yang dipimpin Kenya (MSS) dinilai gagal memberikan perlindungan nyata, kini dunia internasional meluncurkan Gang Suppression Force (GSF) dengan mandat lebih agresif dan personel yang jauh lebih besar.
Kisah pilu Monique Methellus Paul, seorang penjual sayur berusia 52 tahun dari Kenscoff, menjadi potret nyata kegagalan tersebut. Pada awal 2024, ia menyambut kedatangan pasukan dukungan keamanan yang didukung Amerika Serikat dengan harapan besar. Namun, pada Januari 2025, kota pertaniannya justru diserbu kelompok bersenjata.
Dalam serangan dua bulan tersebut, lebih dari 260 orang tewas dan puluhan ribu warga melarikan diri. Rumah Paul dibakar, tanamannya hancur, dan ternaknya dijarah. “Saya menghabiskan 12 tahun membangun rumah itu. Sekarang saya tidak punya apa-apa lagi,” ungkapnya dengan penuh duka.
Kegagalan Misi MSS: Kendala Bahasa dan Logistik
Misi Dukungan Keamanan Multinasional (MSS) yang didominasi polisi Kenya menghadapi kritik tajam selama 22 bulan masa tugasnya. Beberapa faktor utama yang menyebabkan kegagalan misi ini antara lain:
- Hambatan Komunikasi: Personel Kenya menggunakan bahasa Inggris dan Swahili, sementara warga serta polisi lokal berbicara bahasa Kreol dan Prancis. Koordinasi di lapangan sering kali harus menggunakan Google Translate di tengah baku tembak.
- Kekurangan Personel: Dari target 2.500 personel, misi ini tidak pernah melampaui 1.000 anggota.
- Peralatan Tidak Memadai: Kendaraan lapis baja sering mogok dan tidak cocok untuk geografi perkotaan Haiti yang padat.
- Kurangnya Pemahaman Konteks: Para ahli menilai pasukan asing tidak memahami sejarah, medan, dan dinamika sosial di Haiti.
- 80%-90% wilayah ibu kota Port-au-Prince dikuasai geng.
- 1,4 juta warga Haiti terpaksa mengungsi (rekor tertinggi).
- Lebih dari 1.200 orang tewas akibat serangan drone antara Maret 2025 hingga Januari 2026.
- Kerugian ekonomi besar akibat lumpuhnya jalur logistik.
GSF: Harapan Baru atau Sekadar Rebranding?
Dewan Keamanan PBB kini menaruh harapan pada Gang Suppression Force (GSF). Berbeda dengan MSS, GSF memiliki struktur yang lebih militeristik dan otonom:
| Fitur | MSS (Lama) | GSF (Baru) |
|---|---|---|
| Jumlah Personel | Maksimal 2.500 | Target 5.500 |
| Komposisi | Dominan Polisi | Gabungan Polisi & Militer |
| Kewenangan | Mendukung Polisi Lokal | Operasi Independen & Intelijen |
Saat ini, 400 tentara Chad yang dipimpin oleh jenderal angkatan darat Mongolia telah tiba sebagai gelombang pertama. GSF diharapkan dapat beroperasi penuh pada September mendatang dengan dukungan dana lebih dari US$110 juta atau sekitar Rp1,9 triliun dari negara-negara anggota PBB.
Tantangan Sosial dan Politik
Meskipun kekuatan militer ditingkatkan, para pengamat memperingatkan bahwa senjata saja tidak akan menyelesaikan krisis Haiti. Masalah mendasar seperti kemiskinan ekstrem, yakni lebih dari separuh populasi menghadapi kerawanan pangan parah, serta rekrutmen anak-anak oleh geng (meningkat 200% menurut UNICEF), memerlukan solusi politik dan ekonomi jangka panjang.
Seorang perwira polisi Haiti yang enggan disebutkan namanya menyatakan skeptisismenya. “Masalah keamanan harus diselesaikan oleh orang Haiti sendiri. Saya tidak yakin pasukan baru ini akan mengubah keadaan jika koordinasi dan pemahaman lapangan tetap minim,” pungkasnya. (The Washington Post/I-2)
