Dihantam Rugi Rp38 Triliun dan Mundurnya CEO, Masa Depan Air India Kian Suram
Air India hadapi krisis hebat jelang rilis laporan kecelakaan maut Ahmedabad. Kerugian membengkak hingga US$2,4 miliar di tengah mundurnya sang CEO.(Air India)

SATU tahun pasca-tragedi jatuhnya penerbangan Air India AI-171 di Ahmedabad yang menewaskan 260 orang, maskapai kebanggaan India ini justru semakin tenggelam dalam krisis multidimensi. Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat India (AAIB) dijadwalkan akan merilis laporan final penyelidikan tersebut bulan depan, namun kondisi internal maskapai saat ini disebut sedang berada di titik nadir.

Vakumnya kepemimpinan, kerugian finansial yang membengkak, hingga masalah operasional yang memalukan menjadi potret buram maskapai di bawah naungan Tata Group tersebut.

Eksodus Kepemimpinan dan Kerugian Fantastis

Bulan lalu, CEO Air India Campbell Wilson secara mengejutkan mengundurkan diri di tengah masa jabatannya. Langkah ini diambil saat kerugian maskapai untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026 dilaporkan menyentuh angka fantastis, yakni US$2,4 miliar atau sekitar Rp38,2 triliun.

Angka tersebut menjadikan Air India sebagai entitas dengan kerugian terbesar di dalam Tata Group sejak diambil alih dari pemerintah pada 2022. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar bagi dewan direksi Tata. Pekan lalu, pihak manajemen dikabarkan mulai membahas langkah pemangkasan biaya besar-besaran dan memperingatkan staf akan datangnya “masa-masa sulit”.

Mantan Direktur Eksekutif Air India, Jitendra Bhargava, menilai pengunduran diri Wilson menciptakan lubang besar di tengah turbulensi perusahaan.

“Mereka butuh visi yang jelas saat ini. Air India sempat menetapkan rencana lima tahun untuk perombakan pasca-privatisasi. Namun, implementasinya jauh panggang dari api; ada kesenjangan besar yang terus tumbuh,” ujar Bhargava kepada BBC.

Skandal Keamanan dan Operasional

Reputasi Air India kian terpuruk akibat serangkaian insiden memalukan. Maret lalu, penerbangan rute Delhi-Vancouver terpaksa kembali ke India setelah terbang selama delapan jam hanya karena maskapai tidak memiliki izin regulasi untuk memasuki ruang udara Kanada.

Selain itu, audit tahunan otoritas penerbangan India menemukan 51 pelanggaran keselamatan di Air India sepanjang tahun lalu, dengan tujuh di antaranya masuk kategori pelanggaran berat.

Faktor eksternal pun tak berpihak. Depresiasi mata uang Rupee terhadap Dolar AS hingga 10% menyebabkan biaya operasional, terutama bahan bakar, melonjak tajam. Belum lagi kendala rantai pasok global yang menunda pengiriman pesawat-pesawat baru.

Bayang-bayang Laporan Kecelakaan

Dunia kini menanti rilis laporan final kecelakaan maut 12 Juni 2025 di Ahmedabad. Pengamat penerbangan Mahantesh Sabarad menilai, meskipun secara finansial liabilitas kecelakaan telah tertutup asuransi, dampak reputasi dari hasil investigasi akan menjadi penentu masa depan maskapai.

“Dari sudut pandang reputasi, setiap temuan negatif yang potensial dalam investigasi dapat merusak citra maskapai, dan itu akan membutuhkan upaya sangat besar bagi Air India untuk memperbaikinya,” kata Sabarad.

Kini, harapan Air India bertumpu pada dukungan pemodal, termasuk potensi keterlibatan lebih dalam dari Singapore Airlines yang memegang 25,1% saham, untuk menyuntikkan dana segar demi menjaga maskapai tetap mengudara di tengah badai krisis. (BBC/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *