
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Bond Stabilization Fund (BSF) hanya akan digunakan dalam kondisi krisis keuangan. Saat ini, pemerintah masih berfokus menjaga stabilitas harga obligasi dengan menggunakan instrumen yang sudah tersedia.
“Belum kita aktifkan Bond Stabilization Fund. Tapi, stabilisasi harga bond dulu saja. Itu beda. Kalau Bond Stabilization Fund itu kalau krisis baru kita panggil semuanya,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (11/5).
Ia menegaskan kondisi ekonomi nasional saat ini masih terkendali, sehingga pemerintah belum perlu mengaktifkan BSF maupun melibatkan lembaga lain seperti Sarana Multi Infrastruktur (SMI) maupun Indonesia Investment Authority (INA).
Menurutnya, seluruh kebutuhan stabilisasi pasar masih dapat ditangani menggunakan instrumen yang sudah dimiliki pemerintah.
“Ini kan enggak krisis, jadi kita gunakan semua instrumen yang ada di kita untuk menjalankan itu. Belum kita pakai BSF, belum sampai mengundang SMI atau INA,” katanya.
Optimalkan SAL dan Kas Negara
Sebagai gantinya, pemerintah akan mengoptimalkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan kas negara untuk menjaga stabilitas pasar obligasi.
“Yang kita pakai bisa SAL, bisa cash kita. Jadi nanti unit perbendaharaan saya akan lebih aktif, seperti treasury di private sector. Kita manage cash supaya bond lebih stabil,” jelasnya.
Purbaya menambahkan langkah tersebut juga bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar keuangan nasional.
Ia menilai tekanan pasar dalam beberapa waktu terakhir masih dalam batas wajar dan belum mengarah pada kondisi krisis.
Menurutnya, pelemahan rupiah sepanjang Januari hingga April tercatat sekitar Rp400, sementara arus keluar dari pasar obligasi hanya sekitar Rp21 triliun.
“Kalau saya jaga di situ saja, pasti rupiahnya tidak akan melemah terlalu signifikan,” pungkasnya. (Ins/P-3)
