Ilmuwan: Komet 3I/ATLAS Terbentuk sebelum Matahari Lahir
Komet 3I/Atlas(Science Daily)

Para astronom mengungkap temuan revolusioner mengenai komet antarbintang 3I/ATLAS yang diduga terbentuk jauh sebelum Matahari lahir. Objek luar angkasa ini diketahui membawa kandungan air dalam jumlah sangat tinggi, sebuah anomali yang belum pernah ditemukan pada komet mana pun di tata surya kita.

Melansir dari Science Daily, 3I/ATLAS merupakan objek antarbintang ketiga yang berhasil terdeteksi melintasi sistem tata surya kita. Karena berasal dari luar sistem Matahari, komet ini dikategorikan sebagai “fosil kosmik” yang menyimpan informasi krusial mengenai kondisi awal pembentukan planet di wilayah lain galaksi.

Penelitian terbaru yang dipimpin oleh ilmuwan dari University of Michigan menemukan bahwa komet tersebut kemungkinan besar terbentuk di lingkungan yang jauh lebih dingin dibandingkan tempat lahir tata surya kita sekitar 4,6 miliar tahun lalu.

Anomali Kandungan Air Berat

Para peneliti memusatkan perhatian pada komposisi kimia air di dalam 3I/ATLAS. Berbeda dengan air normal (H2O), komet ini memiliki kadar deuterium yang sangat tinggi. Deuterium adalah isotop hidrogen dengan tambahan neutron, yang sering disebut sebagai “hidrogen berat”.

Keberadaan deuterium dalam jumlah masif membuat air pada 3I/ATLAS dikategorikan sebagai “air berat”. Berdasarkan data penelitian, rasio deuterium pada komet ini mencapai:

  • 30 kali lebih tinggi dibandingkan komet di tata surya kita.
  • 40 kali lebih besar daripada kandungan di lautan Bumi.

Kondisi ekstrem ini menjadi petunjuk kuat bahwa 3I/ATLAS lahir di wilayah antariksa yang sangat dingin dan terisolasi dari radiasi bintang.

Fosil Kosmik yang Lebih Tua dari Matahari

Tingginya kandungan deuterium memungkinkan ilmuwan menggunakan unsur tersebut sebagai “sidik jari kimia” untuk melacak usia dan asal-usul objek. Para astronom menduga komet ini terbentuk pada masa sangat awal sejarah galaksi, bahkan kemungkinan besar mendahului kelahiran Matahari.

“Jumlah deuterium dibandingkan hidrogen biasa di dalam air komet ini lebih tinggi daripada apa pun yang pernah kami temukan pada sistem planet maupun komet lain,” ujar Luis Salazar Manzano, penulis utama penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy.

Temuan ini membuktikan bahwa proses pembentukan tata surya kita bukanlah standar tunggal bagi seluruh sistem planet di galaksi. Lingkungan kosmik tempat lahir Matahari ternyata sangat berbeda dibandingkan wilayah lain di alam semesta.

Observasi Menggunakan Teknologi ALMA

Keberhasilan studi ini didukung oleh deteksi dini yang memungkinkan astronom melakukan pengamatan mendalam menggunakan berbagai teleskop modern. Tim peneliti awalnya mendeteksi emisi gas melalui MDM Observatory di Arizona.

Analisis lebih detail kemudian dilakukan menggunakan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) di Chile. Teknologi ALMA memiliki kemampuan presisi untuk membedakan air biasa dengan air kaya deuterium secara mendetail. Ini merupakan kali pertama analisis kandungan air berhasil dilakukan secara komprehensif terhadap objek antarbintang.

Catatan Redaksi: Hingga saat ini, baru tiga objek antarbintang yang terdeteksi memasuki tata surya (1I/‘Oumuamua, 2I/Borisov, dan 3I/ATLAS). Para ilmuwan optimis jumlah ini akan meningkat seiring beroperasinya observatorium generasi terbaru di masa depan.

Penelitian terhadap 3I/ATLAS membuka cakrawala baru bagi ilmuwan untuk mempelajari asal-usul sistem planet lain tanpa harus meninggalkan tata surya, cukup dengan menganalisis kimia objek lintas galaksi yang melintas di dekat Bumi. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *