
SEJUMLAH areal pertanian di Kabupaten Cirebon hingga kini
masih terendam banjir. Kerugian petani terus bertambah.
Banjir terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Cirebon akhir pekan lalu. Selain menggenangi rumah warga, banjir juga merendam wilayah pertanian di Kabupaten Cirebon.
“Areal persawahan yang tergenang banjir terutama di wilayah Kecamatan Kapetakan, Panguragan dan Gegesik,” tutur Ketua Himpunan
Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebo, Tasrip Abu Bakar, Rabu (10/7).
Baca juga : Cirebon Siapkan Rp25 Dana Tanggap Darurat Banjir
Dia menjelaskan di wilayah tersebut areal yang terendam banjir baru
berupa persemaian. Namun untuk persemaian yang terendam banjir tengah dalam proses pendataan.
Namun untuk di Kecamatan Kapetakan luas persemaian yang terendam banjir mencapai 2 hektar. Ada sebagian kecil yang sudah tanam, dengan umur tanaman padi sekitar sepuluh hari.
Hingga kini, lanjut Tasrip, areal sawah tersebut masih terendam banjir.
Karena sudah terendam lebih dari lima hari, petani harus melakukan
persemaian ulang, karena bibit sudah mati.
Untuk melakukan persemaian ulang, petani harus menunggu lahan benar-benar surut dari banjir. Jika tidak ada hujan, diperkirakan
banjir akan benar-benar surut dalam lima hari ke depan.
Akibat harus melakukan persemaian ulang, petani dipastikan mengalami
kerugian. “Kerugian yang dialami di kisaran Rp1,2 juta per hektare.
Selain untuk benih, pengeluaran itu juga untuk ongkos pekerja maupun
pemupukan,” tandas Tasrip.
