
MENJELANG pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU, KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin, memaparkan sejumlah janji strategis. Salah satu fokus utamanya ialah penguatan ekonomi bagi warga Nahdliyin.
“Penguatan ekonomi bagi semua warga Nahdliyin menjadi salah satu program prioritas untuk semua warga NU,” ujar Gus Kikin di sela-sela pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Jombang, Sabtu (29/8).
Kembali ke Khittah melalui Qanun Asasi
Cicit dari pendiri NU KH Hasyim Asy’ari itu menekankan pentingnya menghidupkan kembali rujukan awal organisasi. Gus Kikin menyebutkan bahwa dokumen Qanun Asasi, yang merupakan asas awal NU yang disusun oleh para pendiri, telah ditemukan kembali dan diterbitkan dalam bentuk buku sekitar tiga tahun lalu.
Menurutnya, dokumen tersebut sangat relevan untuk dijadikan pedoman dalam menjalankan berbagai kegiatan NU ke depan. Ia mencatat bahwa rujukan ini sempat tidak digunakan sejak NU bertransformasi menjadi partai politik pada tahun 1952.
“Itu yang saya tawarkan. NU itu seyogianya menggunakan rujukan-rujukan itu lagi. Nanti kita menggunakan itu supaya NU kembali seperti dulu awal digunakan,” ungkapnya.
Optimalisasi Ekonomi Digital dan Pasar Nahdliyin
Terkait gagasan ekonomi, Gus Kikin menilai jumlah warga NU yang sangat besar merupakan potensi pasar yang luar biasa jika dikelola dengan manajemen yang baik. Ia berpendapat bahwa kemandirian ekonomi warga dapat dicapai melalui penataan pasar internal organisasi.
“Ekonomi itu tidak lepas, semua ekonomi berbasis pasar. Nah, pasarnya NU itu dengan jumlah warganya yang begitu besar. Itu sebenarnya akan menjadi pasar ekonomi,” tuturnya.
Selain sektor konvensional, Gus Kikin juga melirik potensi ekonomi digital sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi warga. “Ekonomi digital ikut, tinggal caranya saja. Yang terang, warganya yang jumlahnya banyak ini kalau ditata ekonominya kan menjadi menarik,” tambah beliau.
Kriteria Rais Aam
Saat disinggung mengenai sosok yang layak menjabat sebagai Rais Aam PBNU, Gus Kikin tidak menyebutkan nama secara spesifik. Namun, ia memberikan gambaran mengenai kriteria ideal berdasarkan sejarah kepemimpinan ulama terdahulu.
Ia menegaskan bahwa seorang Rais Aam harus memiliki kedalaman ilmu yang mumpuni serta mampu mengimplementasikan ilmu tersebut dalam setiap amalannya.
“Rais Aam kalau yang zaman dulu memang dari sisi keilmuannya yang mumpuni. Kemudian yang terbaik itu namanya ulama adalah yang menjaga keilmuannya, jadi amalan-amalannya atau semua kegiatannya itu berbasis dari keilmuannya itu,” pungkasnya. (I-2)
