
MAKANAN instan kerap menjadi pilihan praktis dalam pola makan sehari-hari karena kemudahan penyajiannya. Namun, di balik kepraktisan tersebut, konsumsi makanan ultra-proses (Ultra-Processed Food/UPF) yang terlalu sering dan berlebihan dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang, termasuk risiko penurunan fungsi ginjal.
Mengenal Makanan Ultra-Proses (UPF)
UPF merupakan produk pangan yang dihasilkan melalui serangkaian proses industri. Berbeda dengan makanan olahan sederhana yang hanya bertujuan memperpanjang masa simpan, UPF umumnya menggunakan berbagai bahan tambahan seperti perasa, pewarna, pengemulsi, dan zat aditif lainnya.
Berdasarkan sistem klasifikasi makanan NOVA, kelompok UPF mencakup berbagai produk populer, antara lain:
- Mi instan dan sup instan.
- Makanan ringan kemasan (camilan).
- Minuman manis dan bersoda.
- Sereal tertentu dan es krim.
- Biskuit, kue, dan daging olahan.
- Makanan siap saji (fast food).
Produk jenis ini cenderung memiliki kandungan gula, lemak, dan natrium yang tinggi, namun sangat rendah serat serta nutrisi penting lainnya yang dibutuhkan tubuh.
Kaitan dengan Penurunan Fungsi Ginjal
Sebuah analisis yang dilakukan oleh Kermani dkk. meninjau 33 studi yang melibatkan total 786.216 peserta untuk melihat hubungan antara konsumsi UPF dengan kesehatan ginjal. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berkorelasi dengan risiko penurunan fungsi ginjal yang lebih besar.
Data penelitian mencatat bahwa setiap tambahan satu porsi UPF per hari berkaitan dengan peningkatan risiko penurunan fungsi ginjal sebesar 5 persen. Salah satu faktor pemicu utamanya adalah kandungan natrium yang tinggi. Konsumsi natrium berlebih diketahui dapat memicu stres oksidatif dan meningkatkan pengeluaran protein melalui urine (proteinuria), yang merupakan indikator gangguan pada ginjal.
Sebagai contoh spesifik, satu bungkus mi instan dapat mengandung sekitar 60–80 persen dari batas harian garam yang dianjurkan. Tingginya kadar natrium ini menjadi peringatan serius jika mi instan dikonsumsi secara rutin dalam jangka waktu lama.
Kermani dkk. menegaskan bahwa temuan ini menunjukkan adanya hubungan (korelasi), bukan bukti bahwa UPF secara langsung menyebabkan gangguan ginjal (sebab-akibat). Karena penelitian ini bersifat observasional, hasilnya perlu dipahami secara hati-hati sebagai bentuk kewaspadaan dalam mengatur pola makan.
Meskipun belum dapat disimpulkan sebagai penyebab langsung, membatasi konsumsi makanan ultra-proses dan beralih ke bahan pangan segar tetap menjadi langkah preventif yang sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan ginjal dan fungsi organ tubuh lainnya.
(National Library of Medicine, Halodoc/H-3)
