
RUANG kerja atau workspace memiliki peran strategis dalam mendukung produktivitas karyawan, kolaborasi antartim, hingga kinerja bisnis perusahaan. Karena itu, perencanaan ruang kerja tidak semestinya hanya dipandang sebagai pengeluaran operasional, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang bagi organisasi.
Pandangan tersebut menempatkan desain dan pengelolaan ruang kerja sebagai bagian dari strategi bisnis yang perlu mempertimbangkan kebutuhan karyawan, budaya organisasi, perkembangan teknologi, serta pola kerja perusahaan.
Namun, dalam praktiknya, perencanaan ruang kerja masih sering berfokus pada aspek fisik, seperti tata letak, estetika, luas ruangan, dan anggaran. Padahal, efektivitas ruang kerja juga ditentukan oleh kemampuannya mendukung aktivitas dan tujuan organisasi.
Design Director Studio Yruna, Fayruzka Juanita, menilai terdapat kesenjangan antara pendekatan perencanaan ruang kerja dan kebutuhan strategis perusahaan. Salah satu penyebabnya adalah pembahasan mengenai ruang kerja yang sering dilakukan ketika keputusan bisnis dan organisasi sudah ditetapkan.
Menurutnya, diskusi mengenai ruang kerja seharusnya dimulai dari tujuan bisnis, pola kerja, kebutuhan pengguna, serta arah perkembangan organisasi, bukan semata-mata persoalan desain fisik.
Pandangan serupa disampaikan Managing Director Design Partners Indonesia (DPI), Naila Djatnika. Ia mengatakan nilai sebuah ruang kerja tidak cukup diukur berdasarkan fasilitas dan tampilan fisiknya.
“Jadi seharusnya dilihat bagaimana workspace itu mendukung produktivitas, kolaborasi, employee experience, wellbeing, hingga business performance,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, investasi pada ruang kerja diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi karyawan maupun perusahaan.
Dari perspektif pengelolaan sumber daya manusia, ruang kerja juga memiliki kaitan erat dengan efektivitas operasional dan budaya perusahaan.
Head of People & Culture IDN, Audya Medina, menjelaskan bahwa nilai ruang kerja dapat dirasakan ketika fasilitas dan lingkungan kerja mampu mendukung aktivitas organisasi sehari-hari.
“Ketika karyawan dapat bekerja lebih efektif, tim berkolaborasi dengan lebih mudah, people tetap terhubung dengan culture, berbagai aktivitas kerja terfasilitasi, dan workspace mendukung kebutuhan operasional perusahaan,” katanya.
Berbagai perspektif tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam Designed for Life (DFL) Conference 2026 yang diselenggarakan VIVERE Group di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (8/10).
Konferensi bertema The Connected Workspace: Built on Culture. Driven by People. Powered by Technology itu mempertemukan pelaku bisnis, pengguna ruang kerja, desainer, konsultan properti, serta pemangku kepentingan lainnya untuk membahas pengembangan lingkungan kerja yang lebih terintegrasi.
President Director VIVERE Group, William Simiadi, mengatakan DFL dirancang sebagai wadah kolaborasi untuk memperluas diskusi mengenai peran ruang kerja dalam mendukung perkembangan bisnis dan organisasi.
“Bagi kami, ini (DFL) bukan sekadar event. Kami ingin membangun sebuah komunitas sebagai wadah yang mempertemukan berbagai perspektif dari industri dan menciptakan percakapan yang lebih luas mengenai workspace,” ujar William.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar kesenjangan pemahaman dan kebutuhan dalam industri ruang kerja dapat dibahas secara menyeluruh.
DFL berupaya mempertemukan perspektif bisnis, pengguna, desainer, pelaku properti, penyedia teknologi, dan pemangku kepentingan lainnya agar pengembangan ruang kerja tidak dilakukan secara terpisah.
Konferensi tersebut mengangkat tiga pilar utama, yakni Workspace as an Ecosystem, Technology and Digital Integration, serta Business & Productivity. Ketiga pilar itu menyoroti keterkaitan antara manusia, budaya organisasi, teknologi, dan kebutuhan bisnis dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih efektif.
Pembahasan juga melibatkan sejumlah praktisi internasional, antara lain Director Dealer Market Steelcase untuk Asia Tenggara dan Taiwan Joe Chu, Head of Asia Pacific Zoom Carlos Quaderi, Principal Aedas Eric Magno, serta Senior Design Project Manager Global Real Estate and Facilities Amazon Rochelle Lei.
Diskusi dimoderatori Vice President & General Manager Milliken, Allison Cui. Melalui forum tersebut, pengembangan ruang kerja didorong untuk tidak hanya mempertimbangkan desain dan fasilitas, tetapi juga integrasi teknologi serta kemampuan ruang kerja dalam mendukung produktivitas organisasi.
Bagi VIVERE Group, penyelenggaraan DFL Conference 2026 merupakan kelanjutan dari sejumlah kegiatan komunitas dan pengembangan konten yang sebelumnya telah dijalankan melalui inisiatif Designed for Life.
Perusahaan yang bergerak di industri interior dan furnitur sejak 1984 itu berupaya mengembangkan DFL sebagai komunitas jangka panjang yang menghubungkan pelaku industri, pengetahuan, dan praktik pengembangan ruang kerja.
Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, forum tersebut diharapkan dapat memperluas pemahaman bahwa kualitas ruang kerja tidak hanya berkaitan dengan investasi pada bangunan dan fasilitas, tetapi juga pada manusia, budaya kerja, dan keberlanjutan kinerja bisnis. (E_4)
