
DOKTER spesialis neurologi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Brigjen TNI (Purn) dr. Sholihul Muhibbi, menekankan pentingnya tindakan pendinginan segera bagi pasien yang mengalami heatstroke. Langkah awal yang paling krusial adalah memindahkan pasien ke ruangan yang lebih sejuk.
Menurut dr. Sholihul, cuaca panas ekstrem saat ini memicu kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh atau termoregulasi. Kondisi ini diperparah oleh aktivitas fisik yang berlebihan, kurangnya asupan cairan, serta kondisi tubuh yang tidak bugar.
“Pada cuaca panas seperti ini mempermudah terjadinya kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh yang dipicu oleh aktivitas berlebihan dan kurangnya cairan,” ujar Sholihul saat dihubungi di Jakarta, Rabu (12/8).
Langkah Penanganan Darurat
Selain memindahkan pasien ke tempat sejuk, dr. Sholihul menyarankan agar pakaian yang menghalangi proses penguapan keringat segera dilonggarkan. Proses pendinginan tubuh dapat dilakukan dengan cara membasahi atau mengompres permukaan kulit sambil dikipasi secara terus-menerus.
Terkait pemberian asupan, ia memberikan catatan penting: cairan melalui minuman hanya boleh diberikan jika pasien dalam kondisi sadar penuh. Sebaliknya, jika pasien mengalami penurunan kesadaran, jangan dipaksakan untuk minum karena berisiko tersedak.
“Pasien dengan penurunan kesadaran perlu segera mendapat penanganan medis, termasuk pemberian cairan melalui infus serta pemantauan fungsi organ vital seperti ginjal, hati, jantung, dan otak,” tegasnya.
Mengenali Gejala: Dari Kram hingga Heatstroke
Paparan panas biasanya menunjukkan gejala yang muncul secara bertahap:
- Heat Cramps (Ringan): Ditandai dengan rasa haus yang sangat, keringat berlebihan, dan kram pada otot.
- Heat Exhaustion (Sedang): Suhu tubuh meningkat (biasanya di bawah 40 derajat Celsius), nadi cepat namun lemah, pusing, sakit kepala, dan mual. Pada tahap ini, pasien umumnya masih sadar.
- Heatstroke (Berat): Suhu tubuh melonjak melebihi 40 derajat Celsius disertai gangguan fungsi otak.
Pada kondisi heatstroke, pasien dapat mengalami penurunan kesadaran seperti meracau, kejang, hingga koma. Selain itu, risiko kegagalan fungsi ginjal, hati, serta gangguan pembekuan darah menjadi ancaman serius.
Kelompok Rentan dan Risiko Obat-obatan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan risiko heatstroke selama musim kemarau, terutama bagi warga yang beraktivitas lama di luar ruangan.
Dr. Sholihul menambahkan bahwa risiko ini meningkat pada individu dengan gangguan sistem regulasi keringat, termasuk mereka yang mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti antihistamin dan beta blocker. Kelompok lain yang sangat rentan meliputi lansia, penderita obesitas, serta orang yang melakukan aktivitas berat tanpa proses adaptasi cuaca (aklimatisasi) yang cukup. (Ant/H-3)
