Geosite Wediombo Dikembangkan dengan Augmented Reality
Hilirisasi riset destinsi geowisata.(Dok. MI)

Universitas AKPRIND Indonesia bersama Pemerintah Kalurahan Jepitu, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul terus memperkuat komitmennya dalam pengembangan kawasan Geosite Wediombo sebagai destinasi geowisata unggulan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat. 

Program ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Skema Pemberdayaan Wilayah Tahun Ketiga melalui kontrak PKM No. 01/SPP/DP2M/PKM/V/2026, yang menitikberatkan pada hilirisasi hasil riset perguruan tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan yang dilaksanakan di Balai Kalurahan Jepitu dan di destinasi Wediombo tersebut dihadiri oleh Pemerintah Kalurahan, Pokdarwis Idaman Wediombo, kelompok pemuda, tokoh masyarakat, pelaku UMKM, serta tim dosen dan mahasiswa Universitas AKPRIND Indonesia. Selain sosialisasi pengembangan geosite, tim juga melakukan diskusi lapangan mengenai potensi interpretasi geologi, penyusunan jalur geowisata, hingga rencana penerapan teknologi Augmented Reality (AR) sebagai media edukasi bagi wisatawan.

Program ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pengabdian yang telah berjalan selama tiga tahun. Pada tahun-tahun sebelumnya, Universitas AKPRIND Indonesia telah mengembangkan berbagai inovasi teknologi tepat guna di Kalurahan Jepitu, antara lain sistem peringatan dini bencana, diversifikasi produk perikanan, penguatan UMKM, digitalisasi promosi wisata, hingga pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Tahun ketiga difokuskan pada pengembangan geowisata berbasis warisan geologi (geoheritage) yang diharapkan menjadi identitas baru kawasan pesisir selatan Gunungkidul.

Pantai Wediombo selama ini dikenal masyarakat sebagai destinasi wisata pantai dengan panorama alam yang indah. Namun di balik keindahan tersebut tersimpan sejarah geologi yang luar biasa dan memiliki nilai ilmiah tinggi.

Menurut hasil penelitian tim geologi Universitas AKPRIND Indonesia, kawasan Wediombo merupakan sisa tubuh gunung api purba bawah laut yang terbentuk sekitar 23-20 juta tahun lalu (Miosen Awal). Gunung api tersebut awalnya berkembang sebagai gunung api tipe strato, yaitu gunung api yang tumbuh melalui pengendapan berlapis lava dan material piroklastik hasil erupsi dengan komposisi dominan andesitik.

Seiring perjalanan waktu geologi, aktivitas tektonik menyebabkan dasar laut tersebut mengalami pengangkatan hingga muncul menjadi daratan. Proses erosi oleh abrasi laut selama jutaan tahun telah membuka bagian dalam tubuh gunung api sehingga saat ini berbagai struktur vulkanik yang sebelumnya berada jauh di bawah permukaan dapat diamati secara langsung.

“Yang menarik dari Wediombo bukan hanya pantainya, tetapi justru sejarah pembentukan bumi yang tersimpan pada batuan-batuannya. Kawasan ini merupakan laboratorium alam yang sangat langka karena memperlihatkan bagian dalam sistem gunung api purba yang dahulu terbentuk di lingkungan bawah laut,” jelas tim peneliti Universitas AKPRIND Indonesia.

Di kawasan ini dijumpai berbagai kenampakan geologi yang menjadi bukti aktivitas vulkanisme purba, antara lain: lava andesit berstruktur kolom (columnar joints); lava berstruktur lembar (sheeting joints); intrusi gang (dike) andesit yang merupakan bagian dari volcanic neck atau saluran magma purba; lava masif; batuan breksi gunung api; aglomerat vulkanik; serta batuan hasil abrasi pantai yang memperlihatkan tekstur dan struktur vulkanik secara sangat jelas. 

Di sebelah timur kawasan ini berdiri Gunung Manjung, yang tersusun oleh lava, breksi, dan aglomerat andesitik hingga basaltik yang kaya mineral piroksen. Keberadaan Gunung Manjung memperlihatkan kesinambungan sistem gunung api purba yang dahulu berkembang di kawasan selatan Pulau Jawa.

Salah satu inovasi utama dalam program tahun ketiga ini adalah pengembangan Augmented Reality Geosite Wediombo. Melalui teknologi ini, pengunjung nantinya cukup menggunakan telepon pintar atau perangkat interpretasi khusus untuk melihat visualisasi tiga dimensi mengenai proses terbentuknya gunung api purba, arah aliran magma, mekanisme pembentukan lava, hingga evolusi bentang alam Wediombo dari dasar laut menjadi daratan. 

Teknologi tersebut memungkinkan batuan yang selama ini tampak seperti bongkah biasa berubah menjadi media pembelajaran interaktif. Pengunjung dapat mengakses informasi ilmiah, animasi geologi, model tiga dimensi, narasi audio, foto lapangan, hingga rekonstruksi kondisi kawasan jutaan tahun lalu secara langsung di lokasi pengamatan.

Pengembangan sistem AR ini juga diintegrasikan dengan Portable GeoAR Interpretation Station, Offline GeoServer, dan GeoAR Mobile Viewer yang sebelumnya telah dikembangkan oleh tim peneliti Universitas AKPRIND Indonesia. Dengan demikian, interpretasi geologi tetap dapat dilakukan meskipun berada di kawasan yang memiliki keterbatasan akses internet.

Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengalaman wisata sekaligus memperkuat fungsi edukasi geowisata sehingga wisatawan tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga memahami sejarah pembentukan bumi yang tersimpan di kawasan tersebut. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *