
AKTIVIS muda Nahdlatul Ulama (NU) dari Betawi, H. Khotibul Umam, menyatakan dukungannya kepada KH. Syamsul Ma’arif untuk mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Menurut Khotibul Umam, posisi Sekjen PBNU membutuhkan figur yang tidak hanya memiliki kapasitas organisasi, tetapi juga mampu membangun komunikasi serta menjembatani berbagai unsur di lingkungan NU.
“Menurut saya, ada beberapa alasan yang membuat KH. Syamsul Ma’arif memiliki modal penting untuk menjalankan amanah tersebut,” ujar Khotibul Umam dalam keterangannya, Jumat (18/9).
Pertama, chemistry yang telah terbangun dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU). Khotibul menyebut PWNU sebagai salah satu pihak yang sejak awal memberikan dukungan kepada Gus Kiki. Menurutnya, kedekatan komunikasi dan sinergi yang telah terbangun dapat menjadi modal penting dalam memperkuat koordinasi antara PBNU dan struktur NU di daerah.
“PWNU menjadi salah satu yang pertama memberikan dukungan kepada Gus Kiki. Bagi saya, itu menunjukkan adanya chemistry dan komunikasi yang sudah terbangun. Ini penting bagi seorang Sekjen karena pekerjaan organisasi tidak mungkin dilakukan sendirian,” katanya.
Kedua, KH. Syamsul Ma’arif bukan merupakan pejabat publik. Khotibul menilai kondisi tersebut dapat memberikan ruang yang lebih besar untuk mencurahkan perhatian dan energi dalam menjalankan tugas-tugas organisasi di PBNU.
“Sekjen membutuhkan fokus dan intensitas kerja yang tinggi. Karena beliau bukan pejabat publik, saya melihat ada ruang yang lebih besar untuk berkhidmat dan mencurahkan waktu bagi kepentingan organisasi,” ujarnya.
Ketiga, kemampuan untuk diterima oleh berbagai kalangan. Khotibul memandang kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok sebagai salah satu aspek penting dalam menjalankan posisi Sekjen PBNU.
“NU adalah organisasi besar dengan latar belakang warga dan struktur yang sangat beragam. Sekjen membutuhkan figur yang bisa berkomunikasi dengan banyak kalangan, mampu merangkul, dan tidak menciptakan jarak dengan kelompok-kelompok yang berbeda,” tuturnya.
Menurut Khotibul, ketiga pertimbangan tersebut menjadi dasar dirinya memberikan dukungan kepada KH. Syamsul Ma’arif.
Ia berharap dinamika organisasi dalam menentukan kepemimpinan PBNU dapat berlangsung dengan mengedepankan persatuan, komunikasi, dan kepentingan jam’iyah.
“Pada akhirnya, yang paling penting adalah bagaimana kepemimpinan PBNU ke depan mampu memperkuat konsolidasi organisasi dan menghadirkan kemaslahatan bagi warga NU,” pungkas Khotibul Umam. (Cah/P-3)
