Pergerakan Rupiah: Tertekan Tingginya Harga Minyak Global dan Kebijakan Hawkish The Fed
Ilustrasi(Dok Antara)

PADA perdagangan Kamis (30/7), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup terkoreksi. Mata uang Garuda tercatat melemah 38 poin atau 0,12% ke level Rp18.111 per dolar AS, turun dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp18.073 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa tekanan pada rupiah bersumber dari faktor eksternal, terutama kombinasi penguatan indeks dolar serta tingginya harga komoditas minyak mentah dunia.

“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh global berupa menguatnya indeks dolar dan harga minyak yang masih bertahan pada level yang tinggi,” katanya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa meskipun tren harga minyak sempat menunjukkan penurunan, posisinya saat ini masih terpaut jauh di atas asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi ini dikhawatirkan memicu potensi pelebaran defisit neraca perdagangan dan fiskal.

Pengaruh Kebijakan The Fed dan Imbal Hasil Obligasi

Tekanan tambahan turut datang dari hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Sikap bank sentral AS atau The Fed yang cenderung hawkish memicu kenaikan pada yield atau imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia. Tercatat, obligasi tenor 10 tahun naik 0,5 basis points (bps), sementara tenor 2, 3, dan 6 tahun masing-masing meningkat sebesar 1,2 bps, 1,4 bps, dan 2,6 bps.

“Tenor 6 tahun naik paling besar, 14 bps, walaupun tidak terjadi capital outflow,” ungkap dia.

Pandangan senada disampaikan oleh Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede. Menurutnya, pergerakan rupiah cenderung terbatas akibat bayang-bayang pengumuman arah kebijakan moneter FOMC AS.

“Sesuai ekspektasi pasar, The Fed mempertahankan Fed Funds Rate (FFR) pada kisaran 3,50-3,75% dalam pertemuan Juli 2026, serta kembali menegaskan komitmennya untuk memulihkan stabilitas harga,” ungkap dia.

Dalam sesi konferensi pers usai pertemuan, Josua menambahkan bahwa Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyoroti tren kenaikan imbal hasil US Treasury (UST). Indikasi tersebut menunjukkan bahwa para investor obligasi telah mengambil langkah pengetatan kondisi keuangan secara mandiri, sejalan dengan proyeksi bank sentral.

Perkembangan tersebut sekaligus meredam spekulasi pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga lanjutan dalam waktu dekat, kendati di sisi lain turut mendongkrak kenaikan yield UST untuk tenor jangka panjang.

Di sisi lain, pergerakan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama justru mencatatkan penguatan ke level Rp18.078 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya pada level Rp18.087 per dolar AS. (Ant/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *