IHSG Hari Ini Terdongkrak Rating Stabil S&P
ilustrasi(Antara)

Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali menembus level psikologis 6.000 setelah ditutup menguat 1,92% atau 113,48 poin ke posisi 6.037,84 pada perdagangan Senin (13/7). Penguatan berlanjut pada awal perdagangan Selasa (14/7). Hingga pukul 09.00 WIB, IHSG naik 0,10% atau 6,29 poin ke level 6.044,13.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai penguatan IHSG terutama dipicu sentimen positif dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Menurutnya, keputusan tersebut memberikan kepastian bagi pelaku pasar karena tidak terjadi penurunan peringkat maupun perubahan outlook di tengah ketidakpastian global.

“Ini menjadi kabar yang melegakan karena sebelumnya sempat muncul kekhawatiran adanya revisi negatif di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” kata Hendra dalam keterangan yang diterima Media Indonesia, Selasa (14/7).

Ia menjelaskan, keputusan S&P sekaligus menunjukkan lembaga pemeringkat internasional masih memandang fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Hal itu tercermin dari kemampuan menjaga stabilitas fiskal, ketahanan sektor keuangan, serta prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah yang masih dinilai positif.

Meski demikian, Hendra mengingatkan penguatan IHSG belum sepenuhnya didukung masuknya dana asing. Investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) sekitar Rp412 miliar. 

Kondisi tersebut mencerminkan pelaku pasar global masih bersikap hati-hati akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat memicu lonjakan harga minyak dunia menyusul isu penutupan Selat Hormuz. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp18.100 per dolar AS juga menjadi faktor yang membatasi minat investor asing terhadap aset domestik.

“Ini menunjukkan sebagian investor global masih memilih bersikap hati-hati,” ujar Hendra.

Dari sisi teknikal, Hendra menilai keberhasilan IHSG kembali bertahan di atas level 6.000 membuka peluang untuk melanjutkan penguatan menuju area resistance psikologis 6.080-6.100. Peluang tersebut akan semakin besar apabila didukung peningkatan volume transaksi dan berkurangnya tekanan jual dari investor asing.

Namun, ia mengingatkan investor tetap perlu mencermati area support kuat di kisaran 5.887. Selama IHSG bertahan di atas level tersebut, tren pemulihan jangka pendek masih terjaga. Sebaliknya, apabila tekanan eksternal meningkat dan arus keluar dana asing terus berlanjut, gejolak pasar berpotensi kembali meningkat.

“Volatilitas pasar berpotensi kembali meningkat,” katanya.

Ke depan, Hendra menilai arah pergerakan IHSG tidak hanya ditentukan oleh sentimen domestik, tetapi juga perkembangan global, termasuk dinamika konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta musim laporan keuangan emiten global yang mulai bergulir pekan ini. 

Dari dalam negeri, investor juga akan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah, inflasi, serta konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan. Karena itu, meskipun prospek IHSG jangka pendek masih positif berkat dukungan keputusan S&P, strategi investasi yang selektif dengan fokus pada saham berfundamental kuat dinilai masih menjadi pilihan yang paling tepat. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *