Analis: Pergerakan IHSG Cenderung Volatil di Tengah Kombinasi Sentimen Global dan Dalam Negeri
Ilustrasi(Antara)

FOUNDER Republik Investor Hendra Wardana, menyampaikan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek diperkirakan masih bergerak sideways dengan kecenderungan volatil di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih belum sepenuhnya kondusif. 

Dari sisi global, kata dia, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan premi risiko di pasar keuangan, terutama apabila berkembang hingga mengganggu pasokan energi dunia melalui Selat Hormuz. 

“Namun sejauh ini respons pasar global relatif terukur karena pelaku pasar masih menilai konflik tersebut belum mengganggu aktivitas ekonomi secara luas. Di saat yang sama, investor juga memilih bersikap hati-hati menantikan data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi acuan arah kebijakan suku bunga The Fed,” ucap dia dikutip pada Minggu (12/7).

Sementara dari faktor dalam negeri, ia memandang bahwa likuiditas perdagangan yang masih relatif tipis menunjukkan investor belum memiliki keyakinan kuat untuk meningkatkan eksposur risiko, sehingga penguatan IHSG cenderung terbatas dan lebih banyak ditopang oleh saham-saham yang memiliki katalis fundamental. 

“Selama tidak muncul eskalasi geopolitik yang lebih besar maupun kejutan dari kebijakan moneter global, IHSG diperkirakan masih mampu bertahan dengan pola konsolidasi sambil menunggu sentimen baru,” ungkap dia.

Ia menegaskan, eskalasi geopolitik dan arah kebijakan The Fed menjadi dua faktor utama yang akan menentukan aliran dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. “Ketika ketidakpastian global meningkat, investor asing umumnya mengalihkan dana ke aset yang lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat, sehingga memicu tekanan terhadap rupiah dan meningkatkan potensi arus keluar dana asing dari pasar saham domestik,” imbuhnya.

Sebaliknya, apabila data inflasi AS menunjukkan tren yang lebih rendah sehingga membuka peluang penurunan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan, maka minat investor terhadap aset berisiko berpotensi kembali meningkat dan membuka peluang masuknya kembali dana asing ke pasar Indonesia. 

“Oleh karena itu, volatilitas IHSG dalam beberapa pekan ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter global serta perkembangan situasi geopolitik,” terang dia.

Di tengah likuiditas pasar yang masih terbatas, ia menyebutkan bahwa penopang utama IHSG tetap berasal dari fundamental ekonomi domestik yang relatif solid. Selain itu, harga beberapa komoditas energi masih berada pada level yang cukup baik sehingga menopang kinerja emiten berbasis sumber daya alam. Namun, sentimen tersebut masih diimbangi oleh sejumlah faktor pemberat seperti pelemahan rupiah, masih berlanjutnya aksi jual investor asing, rendahnya aktivitas transaksi harian, serta tingginya ketidakpastian global.

“Dalam kondisi seperti ini, sektor yang cenderung defensif seperti perbankan besar, telekomunikasi, dan barang konsumsi masih layak menjadi pilihan karena memiliki fundamental yang stabil dan relatif tahan terhadap perlambatan ekonomi,” bebernya.

Sementara itu, lanjut dia, sektor energi masih berpeluang menjadi outperform apabila ketegangan geopolitik menjaga harga minyak dan energi tetap tinggi. Saham seperti ADRO, PGEO, dan PGAS berpotensi memperoleh sentimen positif seiring prospek sektor energi yang masih menarik, sedangkan TINS dapat diuntungkan apabila harga logam kembali menguat. Untuk investor, strategi yang paling tepat saat ini adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham berfundamental baik sambil tetap disiplin menerapkan manajemen risiko. Bagi investor jangka pendek, momentum perdagangan dapat dimanfaatkan melalui strategi trading buy pada ADRO dengan target harga Rp2.500, PGEO di Rp1.100, PGAS di Rp1.575, serta TINS di Rp3.750. 

“Namun, mengingat ketidakpastian global masih cukup tinggi, investor tetap disarankan menerapkan batas kerugian (stop loss) dan tidak terlalu agresif meningkatkan porsi investasi hingga arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik menjadi lebih jelas,” tandasnya. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *