Hamil Setelah Kanker Rahim, Mungkinkah? Kenali Faktor yang Menentukannya
Ilustrasi(Magnific)

KANKER rahim atau kanker endometrium merupakan jenis kanker ginekologi yang paling sering menyerang perempuan. Penyakit ini berkembang pada lapisan dalam rahim (endometrium) dan umumnya ditemukan pada perempuan yang telah memasuki masa menopause.

Meski demikian, kanker rahim juga dapat terjadi pada perempuan yang masih berada di usia produktif. Pada kelompok ini, muncul pertanyaan yang sering menjadi kekhawatiran, yakni apakah masih ada peluang untuk hamil setelah didiagnosis kanker rahim.

Dilansir dari Moffitt Cancer Center, peluang untuk memiliki anak setelah kanker rahim masih mungkin ada. Namun, kemungkinan tersebut sangat bergantung pada jenis terapi yang dipilih, tingkat keparahan kanker, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.

Pengobatan Menjadi Penentu Utama

Penanganan utama kanker rahim umumnya dilakukan melalui tindakan histerektomi, yaitu operasi untuk mengangkat rahim beserta leher rahim (serviks). Pada beberapa pasien, dokter juga melakukan salpingo-ooforektomi bilateral, yakni pengangkatan kedua ovarium dan kedua tuba falopi.

Jika prosedur tersebut dilakukan, pasien tidak lagi dapat hamil secara alami karena organ reproduksi yang berperan dalam proses kehamilan telah diangkat.

Karena itu, bagi perempuan yang masih ingin memiliki keturunan, pembahasan mengenai kesuburan sebaiknya dilakukan sejak awal diagnosis. Dengan begitu, dokter dapat mempertimbangkan pilihan terapi yang tidak hanya berfokus pada keberhasilan pengobatan kanker, tetapi juga mempertahankan peluang kehamilan apabila kondisi pasien memungkinkan.

Bisakah Operasi Ditunda?

Dalam kondisi tertentu, terutama pada pasien dengan kanker yang masih berada pada stadium awal dan memenuhi kriteria medis, dokter dapat mempertimbangkan pendekatan yang lebih konservatif. Salah satunya adalah menunda operasi sambil menjalani terapi lain yang dinilai aman.

Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada pasien yang masih ingin memiliki anak tanpa mengabaikan penanganan terhadap kanker. Namun, keputusan tersebut harus melalui evaluasi menyeluruh oleh tim dokter karena keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama.

Kemoterapi Dapat Memengaruhi Kesuburan

Selain operasi, kemoterapi terkadang digunakan sebagai bagian dari pengobatan kanker rahim.

Terapi ini bekerja dengan menyebarkan obat antikanker ke seluruh tubuh untuk membunuh sel-sel kanker. Namun, obat tersebut juga berpotensi memengaruhi sel-sel sehat, termasuk sel telur maupun organ reproduksi lainnya.

Akibatnya, sebagian perempuan dapat mengalami penurunan kesuburan, lebih sulit untuk hamil, atau mengalami gangguan dalam mempertahankan kehamilan hingga persalinan.

Besarnya dampak terhadap kesuburan dapat berbeda pada setiap pasien, tergantung jenis obat yang digunakan, dosis terapi, usia, dan kondisi reproduksi sebelum menjalani pengobatan.

Terapi Hormon Dapat Menjadi Alternatif Pada Pasien Tertentu

Bagi sebagian pasien dengan kondisi yang memenuhi syarat, terapi hormon dapat menjadi pilihan untuk mengendalikan pertumbuhan kanker tanpa harus langsung mengangkat rahim.

Pendekatan ini dinilai dapat membantu mempertahankan peluang kehamilan karena organ reproduksi masih dipertahankan. Namun, terapi hormon bukanlah solusi permanen.

Menurut Moffitt Cancer Center, efek terapi hormon umumnya hanya berlangsung selama pengobatan masih dijalankan. Apabila terapi dihentikan, kanker dapat kembali berkembang sehingga banyak pasien pada akhirnya tetap memerlukan tindakan operasi sebagai terapi definitif.

Keinginan memiliki anak merupakan hal yang penting untuk disampaikan kepada dokter segera setelah diagnosis kanker rahim ditegakkan. Dengan mengetahui rencana tersebut sejak awal, tim medis dapat menjelaskan seluruh pilihan terapi beserta manfaat dan risikonya terhadap kesuburan. (Moffitt Cancer Center/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *