
KETERLIBATAN ayah dalam pengasuhan menjadi salah satu faktor penting dalam membangun keluarga yang sehat. Menjelang peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas), kisah Kepala Desa Pasinggangan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Aris Sugiyono, menunjukkan bahwa peran ayah perlu dimulai sejak masa kehamilan.
Jauh sebelum menjabat sebagai kepala desa, Aris telah mempraktikkan langsung pentingnya kehadiran ayah dalam keluarga. Pada 2010, ia memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di bidang peternakan ayam yang berbasis di Kebumen.
Keputusan itu diambil saat istrinya, Kartikawati, sedang mengandung anak pertama. Sistem kerja di luar kota membuat Aris merasa perlu mengambil pilihan besar agar dapat mendampingi sang istri secara langsung selama masa kehamilan.
“Saat itu saya merasa perlu lebih dekat dengan keluarga. Setiap ayah tentu punya cara dan kondisi yang berbeda-beda. Karena pekerjaan membuat saya sering berjauhan dengan istri, ketika istri hamil saya memilih mengundurkan diri dan merintis usaha dari rumah agar bisa lebih banyak mendampingi. Awalnya istri sempat khawatir karena kebutuhan keluarga juga tidak sedikit, tetapi kami menjalaninya bersama,” kata Aris.
Setelah melepas pekerjaannya sebagai PPL, Aris merintis usaha dari rumah. Ia mulai berjualan telur hingga mengembangkan usaha ayam potong. Pilihan menjadi wiraswasta memberinya keleluasaan waktu untuk mendampingi istri, mulai dari mengantar ke posyandu, memperhatikan asupan gizi, hingga menemani proses persalinan.
Menepis Mitos, Menguatkan Peran Ayah

Perjalanan Aris menjalankan peran ayah tidak lepas dari tantangan sosial. Saat istrinya hamil, ia tetap menjalankan usaha ayam potong. Di tengah masyarakat yang masih memegang sejumlah kepercayaan lokal, aktivitas menyembelih dan memotong ayam ketika istri sedang hamil sempat menjadi bahan pembicaraan.
“Waktu itu sempat ada yang membicarakan, istri sedang hamil, tetapi suaminya masih menyembelih ayam sampai puluhan ekor sehari. Di kampung, mitos seperti itu memang masih ada. Tapi saya percaya yang paling penting adalah tetap berusaha, menjaga keluarga, dan memastikan istri mendapat dukungan selama hamil,” ujar Aris.
Aris juga tidak ragu mengambil peran dalam pekerjaan rumah tangga. Ketika Kartikawati baru melahirkan dan tidak ada keluarga lain yang membantu, ia ikut memasak dan memastikan kebutuhan istri terpenuhi selama masa pemulihan serta menyusui.
Latar belakang Aris di bidang peternakan turut membantunya memahami pentingnya asupan protein bagi keluarga. Pengetahuan itu ia terapkan dalam pengasuhan anak, terutama pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), periode penting dalam pencegahan stunting.
Kini, anak pertama Aris yang duduk di bangku SMA tumbuh sehat dan mandiri. Bagi Aris, hal itu menjadi pengingat bahwa kehadiran ayah, dukungan keluarga, dan pemenuhan gizi merupakan bagian penting dalam mendukung kualitas tumbuh kembang anak.
Kelas Bapake Mamake Ajak Suami Terlibat
Pengalaman Aris sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam memperkuat peran keluarga untuk mencegah stunting. Di Desa Pasinggangan, keterlibatan ayah juga didorong melalui Kelas Bapake Mamake, program Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas yang mendorong suami hadir dalam pendampingan ibu hamil.
Upaya tersebut turut diperkuat melalui kolaborasi Kabupaten Banyumas dengan Tanoto Foundation lewat program Stunting 2.0, yang diimplementasikan bersama Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK). Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP), meningkatkan kapasitas pendampingan keluarga, serta mendorong pemanfaatan layanan stimulasi dini bagi anak usia 0 sampai 3 tahun melalui Bina Keluarga Balita (BKB).
Ketua TP PKK Desa Pasinggangan sekaligus istri Kades Aris, Kartikawati, mengatakan salah satu tantangan yang masih ditemukan di lapangan ialah kepatuhan sebagian ibu hamil dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin. Padahal, konsumsi TTD minimal 90 tablet selama kehamilan, sesuai anjuran tenaga kesehatan, penting untuk membantu mencegah anemia.
“Masalah utama di lapangan itu konsumsi TTD yang masih kurang karena rata-rata ibu hamil mengeluh mual dan lupa. Di sinilah fungsi Kelas Bapake Mamake yang dihadirkan Pemkab Banyumas dengan mengharuskan suami hadir. Harapannya, para bapak bisa menjadi pengawas langsung di rumah dan selalu mengingatkan istrinya untuk rutin minum tablet tersebut setiap hari demi mencegah anemia, karena anemia pada ibu hamil merupakan salah satu faktor risiko stunting,” jelas Kartikawati.
Kehadiran Ayah Jadi Fondasi Keluarga
Aris, yang dipercaya warga memimpin Desa Pasinggangan sejak 2019, menilai Harganas menjadi momentum penting untuk mengingatkan kembali peran ayah dalam keluarga. Menurut dia, ayah perlu hadir bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara emosional dan pengasuhan.
Saat ini, Aris memimpin desa terluas di Kecamatan Banyumas dengan sekitar 13.000 warga. Kesibukan sebagai kepala desa membuat waktunya banyak tersita. Namun, ia meyakini fondasi pengasuhan yang dibangun bersama istrinya sejak anak-anak masih kecil telah membantu membentuk kemandirian mereka.
“Bagi saya, ayah tidak cukup hanya hadir sebagai pencari nafkah. Ayah juga harus ikut menjadi fondasi dan pemimpin keluarga, dengan memastikan ibu merasa didampingi, kebutuhan gizi terpenuhi, pemeriksaan kesehatan berjalan, dan anak tumbuh dalam suasana rumah yang aman. Kalau ayah dan ibu sama-sama terlibat, pengasuhan di rumah menjadi lebih utuh. Dari situ, keluarga punya kekuatan lebih besar untuk mencegah anak mengalami stunting,” pungkas Aris. (RO/E-4)
