
PEMERINTAH menegaskan komitmen dalam menjamin hak layanan kesehatan bagi warga binaan pemasyarakatan agar setara dengan masyarakat umum. Langkah nyata ini diwujudkan melalui peluncuran program skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dimulai di Lapas Kelas IIA Ngaseman, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada Senin (29/6).
Program yang merupakan bagian dari agenda prioritas (Quick Win) Presiden Republik Indonesia ini menyasar ratusan ribu narapidana, tahanan, anak binaan, hingga petugas pemasyarakatan di seluruh penjuru tanah air. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa negara bertanggung jawab penuh atas kesehatan seluruh warga tanpa terkecuali.
“Pak Presiden berpesan agar program ini dilakukan kepada seluruh masyarakat, siapa pun mereka, termasuk 272 ribu warga binaan di lebih dari 532 lapas dan rutan di seluruh Indonesia,” ujar Budi dalam keterangannya, Selasa (30/6).
Target dan Fokus Pemeriksaan
Pemeriksaan kesehatan rutin ini diharapkan dapat menjaga kondisi fisik warga binaan selama masa pidana. Targetnya, saat kembali ke masyarakat, mereka memiliki usia harapan hidup yang setara dengan rata-rata nasional, yakni 74 tahun. Selain pemeriksaan fisik dasar, fokus utama program ini adalah deteksi dini penyakit menular dan tidak menular.
- Tekanan darah: Di bawah 120/80 mmHg
- Kadar gula darah: Di bawah 200 mg/dL
- Kadar kolesterol: Di bawah 200 mg/dL
Urgensi Penanganan TB di Lapas
Menkes menyoroti risiko penularan TB yang sangat tinggi di lingkungan lapas akibat kepadatan hunian. Data menunjukkan prevalensi TB di lapas mencapai 0,54%, jauh melampaui rata-rata nasional sebesar 0,3%. Penggunaan foto rontgen dada menjadi instrumen krusial dalam skrining ini.
“TB ini menular dan jangan dianggap remeh. Tapi pengobatannya ada. Kalau ketahuan sejak awal, diobati pasti sembuh dan tidak menularkan lagi,” tegas Menkes Budi.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, menyambut baik kolaborasi ini sebagai langkah luar biasa menuju target eliminasi TB di Indonesia pada 2030. Mengingat Indonesia berada di posisi kedua kasus TB tertinggi di dunia setelah India, deteksi dini di lingkungan berisiko tinggi seperti lapas menjadi prioritas utama.
Data Pelaksanaan Program Nasional
Berdasarkan penjelasan Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) Kemenkes, Andi Saguni, program ini akan dilaksanakan secara bertahap hingga akhir 2026 dengan rincian sebagai berikut:
| Kategori Data | Keterangan / Jumlah |
|---|---|
| Total Sasaran Nasional | 321.449 orang |
| Rincian Peserta | 272.573 warga binaan & 48.876 petugas |
| Cakupan Wilayah | 532 UPT Pemasyarakatan di 34 Provinsi |
| Target Awal (Nusakambangan) | 5.768 orang (29 Juni – 1 Juli 2026) |
| Layanan Kesehatan | Tinggi/Berat Badan, Tekanan Darah, Gula Darah, Kolesterol, RDT HIV, Rontgen Dada TB, Tes Dahak |
Dukungan Sarana dan Prasarana
Sebagai bentuk dukungan nyata, Kemenkes menyerahkan bantuan alat kesehatan senilai Rp2,2 miliar untuk memperkuat layanan di Rumah Sakit Umum (RSU) Pemasyarakatan Nusakambangan. Bantuan ini merupakan hasil kolaborasi RS vertikal Kemenkes (RS Fatmawati, RS Kanker Dharmais, RSCM) serta mitra swasta.
Menteri Agus Andrianto mengonfirmasi bahwa sebagian alat kesehatan telah diterima dan akan segera dioptimalkan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di klinik-klinik lapas dan rutan di seluruh Indonesia. (Z-1)
