Ciri-Ciri dan Faktor Gangguan Kepribadian Narsisistik Menurut Dokter
Ilustrasi, orang dengan NPD.(Dok. Magnific)

DOKTER spesialis kesehatan jiwa Rumah Sakit Soeharto Heerdjan, Suharpudianto, memaparkan sejumlah ciri gangguan kepribadian narsisistik atau narcissistic personality disorder (NPD). Gangguan ini ditandai dengan perasaan bahwa diri sendiri paling penting dibandingkan orang lain.

Dalam siaran Kementerian Kesehatan bertajuk Bukan Sekadar Narsis! Kenali Gangguan Kepribadian Narsistik (Narcissistic Personality Disorder) di Jakarta, Kamis (6/6), Suharpudianto menjelaskan bahwa perasaan tersebut tidak hanya muncul dalam fantasi, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Menurut dia, orang dengan gangguan narsisistik atau NPD cenderung membutuhkan kekaguman dan sanjungan secara terus-menerus dari lingkungan sekitarnya

“Seseorang dengan gangguan narsistik, terus menerus membutuhkan, boleh saya mengistilahkan supply, begitu ya, untuk dikagumi, sanjungan, yang jikalau ini dibutuhkan terus menerus, belum tentu lingkungan sekitarnya bisa menyuplai,” kata Suharpudianto.

Ciri Gangguan Kepribadian Narsisistik

Suharpudianto mengatakan, salah satu ciri NPD yang paling mudah dikenali ialah kesulitan menerima masukan. Masukan yang positif dan konstruktif pun dapat direspons secara berlebihan oleh penderita, misalnya dengan marah.

Selain itu, hubungan sosial orang dengan gangguan kepribadian narsisistik cenderung rapuh. Relasi yang tampak baik, menurut Suharpudianto, sering kali dibangun dengan tujuan tertentu dan dapat bersifat eksploitatif.

“Relasi yang ia bangun itu seolah-olah tampak bisa berempati, tapi sebetulnya dia bersifat eksploitatif. Jadi, dia bersikap empati, baik, dekat, namun dia ingin mendapatkan sesuatu dari orang tersebut. Ketika seseorang tersebut sudah memberikan yang ia inginkan, akhirnya ditinggalkan,” katanya.

Dengan pola tersebut, relasi yang terbentuk tidak selalu didasari empati yang tulus. Penderita bisa tampak dekat dengan orang lain, tetapi kedekatan itu digunakan untuk memperoleh pengakuan, dukungan, atau keuntungan tertentu.

Faktor Genetik hingga Lingkungan

Suharpudianto menyebutkan gangguan kepribadian narsisistik dapat dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya faktor genetik, yakni ketika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan kepribadian serupa.

Faktor lain adalah perkembangan kepribadian. Ia menjelaskan, orang tua yang memiliki gangguan narsisistik dapat menunjukkan perilaku yang menekankan keagungan atau keistimewaan diri. Pola tersebut dapat tertanam pada anak dan menjadi bagian dari kepribadiannya saat dewasa.

Selain itu, faktor psikososial atau lingkungan juga berperan. Lingkungan yang merespons perilaku narsisistik secara tidak tepat, misalnya selalu mengikuti fantasi seseorang yang ingin dipentingkan, dapat memperburuk kondisi tersebut.

“Ketika ia harus pindah ke lingkungan yang lain misalnya, yang ternyata tidak mendukung, rawan sekali teman-teman dengan gangguan kepribadian seperti ini, akhirnya mengalami komplikasi,” ujarnya.

Berisiko Mengalami Komplikasi Depresi

Suharpudianto menuturkan, berdasarkan pengalaman praktik klinisnya, orang dengan NPD dapat mengalami komplikasi berupa depresi.

Kondisi tersebut dapat muncul ketika lingkungan tidak lagi memberikan pengakuan atau sanjungan yang dibutuhkan. Relasi yang rapuh juga dapat membuat penderita mengalami kesulitan dalam mempertahankan hubungan yang stabil dengan orang lain.

Karena itu, pemahaman mengenai ciri dan faktor gangguan kepribadian narsisistik penting agar masyarakat tidak menyamakan perilaku narsis biasa dengan gangguan kepribadian yang dapat mengganggu fungsi sosial dan emosional seseorang. (Ant/H-3)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *