
PRESIDEN Suriah Ahmed al-Sharaa secara tegas menutup pintu bagi kemungkinan intervensi militer Suriah di Libanon. Dalam wawancara eksklusif dengan saluran televisi al-Mashhad, Minggu (21/6), Al-Sharaa menekankan bahwa Damaskus berkomitmen untuk berkontribusi pada stabilitas kawasan melalui jalur politik, diplomatik, dan ekonomi, alih-alih keterlibatan bersenjata.
Pernyataan itu muncul sebagai respons atas spekulasi yang berkembang terkait komentar Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Al-Sharaa mengklarifikasi bahwa sejumlah media telah salah menafsirkan pernyataan Trump sebagai seruan bagi Suriah untuk melakukan intervensi militer di Libanon.
“Baik Presiden Trump maupun pemerintah Amerika Serikat tidak pernah meminta peran militer Suriah. Damaskus tetap pada pendiriannya untuk mengejar upaya diplomatik guna membantu menyelesaikan krisis di Libanon,” tegas Al-Sharaa.
Proposal Perdamaian dan Pemulihan Ekonomi
Sebagai langkah konkret, Al-Sharaa mengungkapkan bahwa Suriah mengajukan proposal kepada Amerika Serikat dan aktor internasional lain. Proposal tersebut menyerukan penghentian segera permusuhan di Libanon yang diikuti oleh proses politik, ekonomi, dan sosial lebih luas untuk mengatasi akar konflik.
Ia menggarisbawahi bahwa pemulihan hubungan ekonomi antara Suriah dan Libanon sangat krusial untuk memitigasi dampak krisis bagi kedua negara. Mengingat situasi Libanon yang saat ini berada dalam kondisi kritis akibat kelumpuhan politik, pengungsian, dan tantangan keamanan, Al-Sharaa mencatat bahwa instabilitas tersebut berdampak langsung pada Suriah, terutama di wilayah perbatasan dan area yang menjadi basis kekuatan Hizbullah.
Baca juga : Trump Usul Suriah Intervensi Libanon, Mungkinkah Sejarah 1976 Terulang
Konteks Sejarah: Keterlibatan Suriah di Libanon memiliki rekam jejak panjang. Pasukan Suriah pertama kali memasuki Libanon pada 1976 di bawah kepemimpinan Hafez al-Assad dan baru menarik diri sepenuhnya pada 2005 setelah tekanan internasional pascapembunuhan mantan Perdana Menteri Libanon, Rafik Hariri.
Dialog dengan Hizbullah dan Kerja Sama Regional
Meskipun mengakui ada perbedaan pandangan yang mendalam antara kepemimpinan Suriah saat ini dengan Hizbullah, Al-Sharaa menyatakan bahwa Damaskus tetap terbuka untuk berdialog. Menurutnya, negosiasi adalah sarana terbaik untuk mencegah eskalasi lebih lanjut demi kepentingan stabilitas regional.
Lebih lanjut, Presiden Suriah menyoroti pentingnya penguatan kerja sama ekonomi di sektor perdagangan, transportasi, energi, dan jasa. Ia meyakini bahwa komplementaritas geografis dan ekonomi kedua negara akan memainkan peran kunci dalam upaya rekonstruksi dan pembangunan di masa depan.
Menutup pernyataannya, Al-Sharaa menegaskan kembali bahwa Suriah tidak memiliki niat bermusuhan terhadap Libanon. Ia menyerukan pergeseran paradigma dari solusi militer menuju fokus pada pembangunan dan stabilitas jangka panjang. “Perdamaian abadi di kawasan ini hanya dapat dicapai melalui dialog, kerja sama, dan kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan,” pungkasnya. (Daily Sabah/I-2)
