
DI tengah tekanan politik yang kian memuncak, Keir Starmer akhirnya resmi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri Inggris sekaligus pemimpin Partai Buruh. Langkah dramatis ini diambil setelah gelombang ketidakpuasan melanda internal partai, dipicu oleh kekhawatiran para menteri dan anggota parlemen atas ancaman elektoral dari partai Reform UK menjelang pemilu mendatang.
Pengumuman ini sekaligus membuka jalan lebar bagi mantan Wali Kota Greater Manchester yang kini menjadi anggota parlemen (MP) Makerfield, Andy Burnham, untuk menggantikannya. Burnham diprediksi akan melenggang mulus ke Downing Street tanpa perlu melewati kontestasi internal yang sengit.
Pidato Emosional di Downing Street
Starmer mengambil keputusan berat ini setelah menghabiskan akhir pekan bersama keluarganya di Chequers. Dalam pidato emosional di luar kantornya, ia mengakui bahwa dirinya bukan lagi sosok yang tepat untuk memimpin negara.
“Pertanyaan yang diajukan partai saya sekarang adalah apakah saya orang terbaik untuk memimpin kita menuju pemilihan umum berikutnya,” ujar Starmer.
“Saya telah mendengar jawaban dari partai parlemen saya atas pertanyaan itu, dan saya menerima jawaban itu dengan lapang dada. Setiap keputusan yang saya ambil adalah tentang mengutamakan negara yang saya cintai, itulah sebabnya saya akan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh.”
Meskipun sempat bersikeras akan bertahan, diskusi mendalam dengan jajaran kabinet dan istrinya, Victoria, akhirnya mengubah keputusan Starmer. Ia telah meminta komite eksekutif nasional Partai Buruh untuk menyusun jadwal pemilihan pemimpin baru, yang ditargetkan selesai sebelum masa reses musim panas pertengahan Juli ini.
Andy Burnham Calon Tunggal Terkuat
Hingga saat ini, Burnham menjadi kandidat tunggal yang paling diunggulkan setelah rival potensialnya, Wes Streeting, menyatakan tidak akan maju dalam bursa pencalonan. Tanpa adanya penantang yang mampu mengumpulkan syarat minimal 81 dukungan dari anggota parlemen, Burnham diperkirakan bakal resmi menjabat sebagai Perdana Menteri ketujuh Inggris dalam satu dekade terakhir pada 16 atau 17 Juli mendatang.
Merespons pengunduran diri Starmer, Burnham langsung menyampaikan apresiasinya dan menegaskan kesiapannya untuk memimpin stabilitas negara.
“Keputusannya menandai awal dari sebuah transisi dan penting agar proses ini dilakukan dengan cara yang tertib dan bertanggung jawab,” kata Burnham.
“Saya akan mengajukan diri sebagai bagian dari proses ini. Negara mengharapkan stabilitas, keseriusan, dan fokus berkelanjutan pada isu-isu yang paling penting dan itulah yang akan mereka dapatkan.”
Arah Kebijakan Baru
Tim sukses Burnham kini mulai merancang agenda pemerintahan baru, termasuk rencana penunjukan Ed Miliband sebagai Kanselir untuk menantang ortodoksi Kementerian Keuangan, serta mempertahankan Shabana Mahmood di Kementerian Dalam Negeri. Fokus utama Burnham diprediksi akan tertuju pada reformasi ekonomi, kebijakan devoluasi daerah, serta strategi matang untuk membendung pengaruh politik Nigel Farage dari kubu oposisi. (The Guardian/Z-2)
