Panas Dalam
Ahmad Punto Wartawan Media Indonesia(MI/Seno)

SELAMA 10 hari pertama gelaran Piala Dunia 2026, terlihat nyata perbedaan kualitas ‘mesin’ tim-tim peserta, khususnya tim unggulan di turnamen akbar tersebut. Ada mesin yang langsung panas di laga-laga awal, ada yang terlambat panas sehingga agak tersendat di pertandingan pembuka, ada pula mesin yang belum apa-apa sudah kena panas dalam.

Kelompok pertama, mesin yang langsung panas, setidaknya diwakili Jerman, Argentina, dan Prancis. Tim-tim itu tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan bentuk permainan terbaik. Sejak peluit pertama dibunyikan, mesin mereka langsung menderu kencang dan melindas lawan.

Jerman menjadi contoh sempurna. Mereka memang mengusung misi penebusan besar di Piala Dunia 2026 setelah tersingkir di fase grup Piala Dunia 2022 dan 2018. Cukup beralasan kiranya kalau kali ini mereka betul-betul menyiapkan mesin tim dengan prima.

Hasilnya nyata. Menghadapi tim debutan Curacao di laga awal, tim asuhan Julian Nagelsmann langsung tancap gas dengan menang telak 7-1. ‘Die Mannschaft’ membuktikan sistem mekanis mereka bekerja tanpa cela. Distribusi tenaga mesin yang merata kembali memakan korban di pertandingan kedua saat Joshua Kimmich dkk menekuk Pantai Gading 2-1.

Tidak mau kalah, juara bertahan Argentina juga memamerkan performa mesin yang sangat efisien saat menggilas Aljazair 3-0. Terlebih, mesin tim ‘Tango’ punya motor penggerak andal bernama Lionel Messi. Ia tak sekadar kompeten sebagai poros permainan, tapi juga mahir jadi algojo.

Pada usia yang nyaris 39 tahun, Messi membuktikan ia belum habis. Saat menjalani laga internasionalnya ke-200, tepat 20 tahun sejak debut di Piala Dunia 2006, ‘sang Messiah’ tampil solid. Ia mencetak hattrick sekaligus menyamai rekor 16 gol Piala Dunia milik Miroslav Klose.

Pada hari yang sama, Prancis juga menunjukkan ketangguhan mesin mereka. Dalam menghadapi tantangan fisik yang disajikan Senegal, ‘Les Bleus’ tampil klinis untuk mengamankan kemenangan 3-1. Selain faktor Kylian Mbappe yang menjadi pembeda dengan memborong brace (dua gol), laga itu memperlihatkan transisi bermain Prancis yang sangat efisien. Itu menandakan sejak awal mesin sudah disetel pada kompresi tinggi.

Kelompok kedua, mesin yang lambat panas, dihuni Spanyol, Brasil, dan Belanda. Kiranya mereka seperti mesin pabrikan elite yang butuh waktu penyesuaian suhu sebelum bisa melaju dengan kecepatan penuh.

Spanyol, sang jawara Eropa, mengalami masalah starter saat menghadapi Tanjung Hijau. Armada Luis de la Fuente secara mengejutkan harus puas dengan skor kacamata 0-0. Dominasi sirkulasi bola khas ‘La Furia Roja’ kali ini buntu karena kurangnya penyelesaian akhir yang ciamik.

Mesin Spanyol seolah tersumbat oleh tebalnya lini pertahanan yang bermain ekstradisiplin. Sepanjang 90 menit mereka tak mampu meruntuhkan tembok pertahanan Tanjung Hijau yang dikawal luar biasa oleh kiper veteran berusia 40 tahun, Vozinha.

Hal serupa menimpa Brasil. Pada laga perdana Grup C, ‘Selecao’ tampil kurang gereget dan harus rela berbagi angka 1-1 dengan Maroko. Pemain Maroko, Ayyoub Bouaddi, mampu menyedot pujian karena berhasil membuat mesin lini tengah Brasil macet. Anak muda 18 tahun itu sukses mematikan kreativitas pemain sekelas Casemiro dan Bruno Guimaraes.

Namun, proses pemanasan itu akhirnya terbayar di laga kedua menghadapi Haiti. Mesin Brasil mulai panas dan menang meyakinkan 3-0. Begitu juga dengan Belanda. Setelah sempat brebet ketika melawan Jepang, mesin tangguh tim ‘Oranye’ akhirnya gaspol saat membantai Swedia 5-1 di laga kedua.

Kelompok ketiga, mesin panas dalam, kategori paling menarik sekaligus mengkhawatirkan. Portugal ialah representasi nyata. Di atas kertas, spesifikasi mesin mereka amat mewah karena dihuni pemain-pemain kelas dunia. Namun, saat dinyalakan, mesin justru bergejolak. Di laga pertama, anak asuh Roberto Martinez ditahan imbang RD Kongo 1-1.

Gejala panas dalam Portugal terletak pada dilema sang kapten, Cristiano Ronaldo. Ketika bermain di Piala Dunia keenamnya yang bersejarah, Ronaldo justru tampil tidak efektif. Megabintang berusia 41 tahun itu gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran dan membuang dua peluang emas di depan gawang.

Kegagalan mekanis itu langsung menyulut ‘suhu panas’ di internal tim dan media. Desakan agar Martinez berani mencadangkan Ronaldo demi kolektivitas tim mulai bermunculan dari berbagai pengamat dan mantan pemain. Jika Martinez tak mampu mengelola persoalan itu, panas dalam di mesin Portugal sangat mungkin bakal menggerogoti peluang mereka.

Piala Dunia ibarat balapan ketahanan. Mesin yang langsung panas di awal berisiko mengalami overheating jika tidak pintar mengelola rotasi pemain. Mesin yang lambat panas harus segera menemukan suhu optimal agar tidak tertinggal di tikungan. Yang paling pelik ialah mesin yang panas dalam. Bila masalah di ruang mesin itu tidak segera dibenahi, bisa-bisa mereka malah mogok di tengah jalan.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *