
SENSASI merinding sering kali dikaitkan dengan firasat atau kemampuan mendeteksi keberadaan makhluk tak kasat mata. Namun, di balik mitos yang berkembang di masyarakat, dunia medis memiliki penjelasan yang sangat logis dan terukur mengenai fenomena ini.
Menurut dr. Yeni Quinta Mondiani, ahli neurologi (saraf) sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, merinding bukanlah sinyal gaib, melainkan respons biologis yang disebut sebagai piloerection.
Mekanisme Pertahanan Tubuh
Secara medis, merinding terjadi ketika bulu-bulu halus pada kulit berdiri akibat kontraksi otot kecil di pangkal rambut. Respons ini dikendalikan oleh sistem saraf otonom, yang bekerja secara otomatis tanpa disadari oleh manusia.
“Merinding merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh yang diwariskan dari nenek moyang manusia. Meskipun fungsi aslinya sudah tidak terlalu relevan, jalur saraf yang mengaturnya masih aktif hingga sekarang,” jelas dr. Yeni.
Bagian otak yang memegang peranan kunci dalam proses ini adalah amigdala. Sebagai pusat pengolahan emosi atau “sistem alarm” tubuh, amigdala akan memicu pelepasan adrenalin saat otak mendeteksi sesuatu yang mengejutkan, mengancam, atau bahkan mengagumkan.
Tabel: Pemicu Merinding dan Respons Kimia Otak
| Pemicu Fenomena | Zat Kimia/Sistem yang Terlibat | Keterangan |
|---|---|---|
| Rasa Takut/Terancam | Adrenalin | Respons “fight or flight” dari amigdala. |
| Momen Emosional/Musik | Dopamin | Berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. |
| Lingkungan Baru/Asing | Sistem Saraf Otonom | Otak memindai suhu, aroma, dan memori masa lalu. |
Mengapa Tempat Tertentu Bikin Merinding?
Banyak orang merasa merinding saat memasuki ruangan atau tempat tertentu. Yeni menjelaskan bahwa hal ini menunjukkan betapa peka otak manusia dalam memproses informasi lingkungan seperti perubahan suhu, cahaya, aroma, hingga suara frekuensi rendah yang mungkin tidak disadari secara sadar.
“Otak memang terus memindai lingkungan dan sering kali bekerja lebih cepat daripada kesadaran kita. Ini bukan berarti seseorang sedang menerima sinyal gaib,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa pada individu dengan riwayat kecemasan atau trauma, sistem alarm di otak cenderung lebih sensitif sehingga lebih mudah merinding.
Kapan Harus Waspada?
Meski umumnya merupakan fenomena normal, masyarakat diminta untuk tetap memperhatikan kondisi tubuh. Yeni mengingatkan agar segera melakukan pemeriksaan jika merinding muncul berulang kali tanpa pemicu emosional atau lingkungan yang jelas.
Gejala tambahan yang perlu diwaspadai meliputi:
- Pusing atau sakit kepala mendadak.
- Jantung berdebar kencang (palpitasi).
- Keringat berlebih yang tidak wajar.
- Nyeri dada atau sesak napas.
“Merinding justru menunjukkan betapa canggihnya sistem saraf manusia dalam merespons emosi dan lingkungan sekitar, bukan tanda adanya sesuatu yang tak terlihat,” pungkasnya. (Z-1)
