
KENAIKAN harga kedelai impor yang kini mencapai sekitar Rp12.000 hingga Rp 12.500 per kilogram membuat para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Subang, Jawa Barat, semakin tertekan. Selain dipicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, kenaikan harga bahan baku juga diikuti meningkatnya biaya operasional lainnya.
Di Sentra Perajin Tahu dan Tempe Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Kecamatan Subang, para perajin mengaku kesulitan menghadapi lonjakan harga kedelai impor yang terus merangkak naik.
Kenaikan harga bahan baku berdampak langsung pada biaya produksi usaha tahu dan tempe. Tidak hanya kedelai, harga plastik kemasan serta berbagai kebutuhan operasional lainnya juga mengalami kenaikan.
Untuk menekan biaya produksi, para perajin terpaksa melakukan berbagai langkah efisiensi. Mulai dari memperkecil ukuran produk, mengurangi jumlah produksi, hingga merumahkan sebagian tenaga kerja.
Salah seorang perajin tahu, Dedi Kuswandi mengatakan kondisi saat ini sangat memberatkan para pelaku usaha kecil.
“Harga kedelai terus naik, sementara harga jual tahu sulit dinaikkan karena daya beli masyarakat masih lemah. Akhirnya kami terpaksa memperkecil ukuran produk dan mengurangi produksi agar usaha tetap berjalan,” kata Dedi, Selasa (16/6).
Menurut Dedi, kondisi tersebut membuat keuntungan usaha terus menurun. Meski demikian, mereka tetap berupaya mempertahankan usaha agar tidak kehilangan pasar yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Para perajin berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga kedelai impor. (RZ/E-4)
