KLH Gandeng Tokoh Lintas Agama Dorong Gerakan Pertobatan Ekologis
Ilustrasi(Dok KLH)

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup menerima kunjungan Gerakan Siaga Bumi dan Interfaith Rainforest Initiative Indonesia yang dipimpin Din Syamsuddin di kantor KLH, Jakarta, Kamis (12/6). Pertemuan ini menjadi ruang penguatan kolaborasi lintas agama dalam memperluas gerakan moral menjaga bumi di tengah meningkatnya krisis lingkungan global.

Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat menegaskan penyelamatan lingkungan tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan teknis dan penegakan hukum, melainkan juga membutuhkan penguatan nilai moral dan spiritual.

“Upaya penyelamatan lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan teknis dan penegakan hukum. Kita membutuhkan gerakan moral yang tumbuh dari kesadaran bersama, termasuk dari komunitas agama, untuk menjaga bumi sebagai amanah bagi generasi mendatang,” ujar Jumhur dalam keterangan resmi, Minggu (14/6). 

Ia menambahkan KLH tengah mendorong penguatan pendekatan keadilan iklim serta perubahan perilaku masyarakat melalui pendidikan lingkungan, penegakan hukum, dan penguatan ekonomi hijau. 

Dalam konteks itu, keterlibatan tokoh agama dipandang semakin penting untuk memperluas jangkauan edukasi dan membangun kesadaran publik.

Ketua Tim Pengarah Siaga Bumi dan IRI Indonesia Din Syamsuddin, yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015, menyebut gerakan lintas agama ini sebagai bentuk tanggung jawab moral umat beragama dalam menghadapi krisis lingkungan.

“Ini adalah gerakan moral lintas agama untuk menyelamatkan bumi. Kami melihat bahwa semua agama mengajarkan nilai kebaikan dan tanggung jawab terhadap alam, sehingga kolaborasi ini menjadi kekuatan besar untuk mendorong perubahan nyata di masyarakat,” kata Din.

Ia menambahkan gerakan ini akan diwujudkan melalui aksi nyata, mulai dari pengelolaan lingkungan rumah ibadah, penghematan air, pengurangan sampah, hingga kampanye berbasis nilai keagamaan yang dekat dengan kehidupan umat sehari-hari.

Dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari berbagai unsur keagamaan lain. Majelis Ulama Indonesia disebut telah mendorong penguatan etika lingkungan melalui gerakan eco masjid dan pengelolaan sampah berbasis kesadaran keagamaan. 

Sementara Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan jaringan gereja Katolik memperkuat inisiatif rumah ibadah ramah lingkungan seperti pengurangan plastik dan penghematan sumber daya alam.

KLH berharap sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat dapat terus diperluas melalui aksi nyata seperti penanaman pohon, gerakan bersih sungai, pengurangan sampah dari sumbernya, serta penguatan edukasi lingkungan berbasis komunitas. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *