
LAPORAN terbaru dari Kaspersky mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai fenomena tech-enabled abuse atau pelanggaran yang didukung teknologi. Berdasarkan studi global terhadap 7.600 responden di 19 negara, terungkap bahwa ancaman digital ini jauh lebih personal daripada yang dibayangkan sebelumnya.
Alih-alih dilakukan oleh orang asing yang anonim, hampir 50% korban melaporkan bahwa pelaku pelanggaran online justru berasal dari lingkaran sosial mereka sendiri. Temuan ini menggeser paradigma keamanan siber yang selama ini lebih fokus pada serangan eksternal.
Lingkaran Terdekat Menjadi Ancaman Utama
Data menunjukkan bahwa teman, pasangan, hingga anggota keluarga memiliki peran signifikan dalam kasus pelecehan digital. Hal ini sering kali terjadi karena adanya akses bersama terhadap perangkat atau akun, serta tingkat kepercayaan yang disalahgunakan.
| Kategori Pelaku | Persentase Kasus |
|---|---|
| Orang tidak Dikenal | 40% |
| Teman | 15% |
| Pasangan Saat Ini | 10% |
| Kolega Kerja | 8% |
| Anggota Keluarga | 7% |
| Mantan Pasangan | 6% |
Kesenjangan Generasi dan Gender
Studi ini juga menyoroti kerentanan yang berbeda berdasarkan usia dan jenis kelamin. Gen Z tercatat sebagai kelompok yang paling sering mengalami pelanggaran online, sementara perempuan merasa jauh lebih tidak aman di ruang digital dibandingkan laki-laki.
| Indikator | Data Statistik |
|---|---|
| Gen Z yang Mengalami Pelanggaran (1 tahun terakhir) | Hampir 60% |
| Literasi Istilah “Tech-enabled Abuse” (Gen Z) | 81% |
| Literasi Istilah “Tech-enabled Abuse” (Baby Boomers) | 64% |
| Perempuan Merasa Tidak Aman Secara Daring | 62% |
| Laki-laki Merasa Tidak Aman Secara Daring | 54% |
Kondisi di Indonesia: Ancaman Stalkerware Nyata
Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat kekhawatiran keamanan digital yang sangat tinggi. Hanya 21% masyarakat Indonesia yang merasa benar-benar aman saat beraktivitas daring. Sisanya, sebanyak 79%, merasa setidaknya sebagian tidak aman.
Data spesifik untuk Indonesia menunjukkan adanya 917 deteksi stalkerware unik sepanjang periode 2024–2025. Meskipun kesadaran masyarakat terhadap isu ini cukup tinggi (93% pernah mendengar istilah tersebut), ancaman teknis tetap menjadi tantangan besar yang memerlukan langkah pencegahan lebih kuat.
Analisis Pakar:
Tatyana Shishkova dari Kaspersky GReAT menekankan bahwa ancaman ini sulit dideteksi karena tertanam dalam interaksi sehari-hari dan perangkat tepercaya. Sementara itu, Dr. Leonie Maria Tanczer dari UCL menyebutkan bahwa lingkungan digital dapat mempercepat eskalasi konflik dalam hubungan yang sudah ada, mengubah ruang aman menjadi ruang berisiko.
Langkah Perlindungan Diri
Untuk memitigasi risiko tech-enabled abuse, Kaspersky merekomendasikan beberapa langkah praktis bagi pengguna:
- Kenali Tanda-tanda: Waspadai perilaku mengontrol atau pemantauan terus-menerus.
- Lindungi Ruang Digital: Gunakan kata sandi unik, aktifkan otentikasi dua faktor (2FA), dan tinjau izin aplikasi secara berkala.
- Batasi Akses: Hindari berbagi perangkat atau informasi sensitif jika tidak mendesak.
- Gunakan Alat Keamanan: Pasang solusi keamanan tepercaya yang mampu mendeteksi stalkerware atau akses tidak sah.
- Dokumentasikan Insiden: Jika mencurigai adanya pelecehan, segera dokumentasikan bukti dan cari bantuan profesional. (Z-1)
