
PRESIDEN Prancis Emmanuel Macron menyerukan “ketenangan dan ketertiban” usai aksi demonstrasi besar-besaran berubah menjadi kerusuhan dan penjarahan. Meski demikian, beberapa gangguan keamanan dilaporkan masih berlanjut di Paris.
Dalam pidato nasional dari Istana Élysée, Macron memperingatkan para pelaku kerusuhan untuk tidak memperkeruh suasana. “Kita semua merasakan kemarahan dan rasa malu,” tegasnya.
Sekitar 550.000 demonstran sebelumnya turun ke jalan dalam aksi protes yang sebagian besar berlangsung damai. Merek menyuarakan protes atas kenaikan harga bahan bakar, biaya hidup, serta memburuknya layanan publik, termasuk fasilitas sekolah.
Macron menegaskan perlunya membedakan antara “tuntutan sah” para demonstran dan “mereka yang merusak, menghancurkan, serta menjarah”. Ia menyatakan bahwa “tidak ada yang membenarkan” kekerasan liar yang terjadi dan memastikan para pelaku akan berhadapan dengan hukum.
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat pihak kepolisian telah menangkap sekitar 2.400 orang. Kerusuhan ini diwarnai oleh kelompok perusuh bertopeng dan berpakaian hitam di Paris, Marseille, serta kota-kota lain yang membakar mobil dan bangunan. Pada hari berikutnya, aksi penjarahan dan bentrokan skala kecil dengan polisi masih terjadi di beberapa wilayah ibu kota dan Lyon.
Menurut laporan kantor berita AFP, gas air mata dan granat kejut ditembakkan ke arah ratusan orang di Paris setelah botol dan batu kembali dilemparkan ke arah petugas. Prancis kini harus menghadapi dampak dari salah satu gelombang kerusuhan terburuk dalam sejarah modernnya.
Kerusakan Bangunan Bersejarah dan Fasilitas Publik
Di Kota Limoges, balai kota megah peninggalan abad ke-19 hangus terbakar akibat ulah perusuh. Menara jam dan atap bangunan runtuh saat dilalap si jago merah.
“Ini sangat menyedihkan. Merusak bangunan warisan sejarah hanya karena Anda marah kepada pemerintah adalah tindakan yang egois, menurut saya. Ini merugikan semua orang,” ujar seorang warga bernama Annèyse saat berada di dekat reruntuhan bangunan.
Warga lainnya, Gerrard, turut menyuarakan duka mendalam atas kejadian tersebut. “Ini mengerikan dan tidak dapat dipercaya. Kami sangat sedih dan saya pikir akan memakan waktu lama untuk mengembalikannya seperti semula,” ungkapnya.
Di Paris, para pemilik toko sibuk membersihkan pecahan kaca, sementara truk sampah mengangkut puing-puing kerusuhan di jalan-jalan utama. Penjarahan meluas dilaporkan terjadi di Paris, Marseille, Lille, dan kawasan lainnya.
Untuk mengantisipasi aksi lanjutan, Macron menyatakan prefek lokal dan wali kota akan menyusun langkah-langkah perlindungan bagi toko dan bangunan sipil. Ia juga menjamin adanya “transparansi penuh” terkait tindakan penanganan kepolisian.
Selama akhir pekan, polisi menggunakan gas air mata, meriam air, dan pentungan untuk membubarkan massa. Kementerian Dalam Negeri mengonfirmasi sekitar 1.000 personel polisi mengalami luka-luka, dengan tujuh di antaranya menderita luka serius.
Eskalasi Politik dan Perpecahan Tajam
Gelombang protes mahasiswa yang dimulai bulan lalu melonjak drastis setelah bergabung dengan anggota serikat buruh dan kelompok anti-pemerintah. Respon para tokoh politik pun makin mempertegas perpecahan politik yang mendalam di Prancis menjelang pemilu April mendatang.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyatakan bahwa meski berdemonstrasi adalah hak fundamental, telah terjadi pelanggaran hukum oleh “beberapa ribu individu sayap kiri jauh” yang menargetkan bangunan publik dan menyerang polisi. Ia menambahkan kelompok tersebut kemudian diikuti oleh “penjahat yang menjarah dan merusak banyak bisnis di beberapa kota di Prancis”.
Pernyataan tersebut dikritik keras oleh Jean-Luc Mélenchon, pemimpin partai sayap kiri jauh La France Insoumise. Melalui media sosial, ia menyebut jajaran kepolisian “menunjukkan ketidakmampuan total” dan mengkritik cara penanganan demonstrasi tersebut.
Di sisi lain, pemimpin partai sayap kanan jauh National Rally, Marine Le Pen, mengecam “pemanfaatan” kemarahan warga “oleh kekuatan politik yang mendorong kekerasan”. (BBC/Z-2)
