Harga Kamar Hotel di Bali Kontraksi 5,85 Persen pada Triwulan I
Survei BI Bali mencatat harga kamar hotel terkontraksi 5,85% pada triwulan I-2026 akibat dampak konflik geopolitik.(Dok. Traveloka)

HARGA kamar perhotelan di Bali mengalami kontraksi sebesar 5,85 persen pada triwulan I-2026 dibandingkan triwulan IV-2025 yang sempat tumbuh 0,68%. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya permintaan akibat dampak konflik di Timur Tengah serta perubahan perilaku wisatawan domestik.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Achris Sarwani, mengungkapkan bahwa penurunan harga ini merupakan dampak berantai dari ketimpangan distribusi permintaan dan berkurangnya pangsa wisatawan mancanegara akibat ketegangan geopolitik.

“Permintaan hotel menurun akibat ketimpangan distribusi permintaan antar-pelaku usaha di tengah berkurangnya pangsa wisatawan domestik dari sektor pemerintahan dan wisatawan mancanegara akibat konflik geopolitik,” ujar Achris Sarwani dilansir dari Antara, Rabu (20/5).

Selain faktor geopolitik, koreksi harga pada segmen perhotelan dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan kompetisi dan tingginya sensitivitas harga wisatawan domestik. Secara umum, indeks permintaan properti komersial di Bali pada triwulan I-2026 terkontraksi sebesar 9,27%.

Penurunan terdalam terjadi pada segmen hotel sebesar minus 15,02 persen, disusul perkantoran sewa minus 14,91%, dan apartemen sewa minus 5,99 persen. Pada segmen apartemen, penyewa kini cenderung memilih masa tinggal singkat (1-2 bulan) karena beralih ke opsi vila atau resor.

Berbanding terbalik dengan segmen lainnya, permintaan ritel sewa justru tumbuh positif sebesar 13,49%. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi gerai waralaba internasional di bidang makanan, minuman, dan produk konsumtif lainnya yang menyasar segmen ekonomi kelas atas.

Meski permintaan melandai, pasokan properti komersial di Bali tetap solid dengan kenaikan indeks sebesar 4,48%. Sejumlah hotel berbintang tetap melakukan penambahan kamar sebagai strategi jangka panjang untuk menyambut prospek kunjungan wisatawan di masa depan.

Untuk menjaga stabilitas sektor ini, BI menegaskan dukungannya melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mendorong pembiayaan perbankan pada properti komersial yang berkualitas. “Dengan demikian, pasokan dan permintaan properti komersial dapat terjaga sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” pungkas Achris. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *