
PRESIDEN Prabowo Subianto menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bukan sekadar dokumen fiskal, melainkan instrumen perjuangan negara untuk menjaga kesejahteraan rakyat dan memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Hal itu disampaikan Prabowo saat pidato dalam Rapat Paripurna DPR di Jakarta, Rabu (20/5), terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2027.
Dalam pidatonya, Prabowo menekankan bahwa arah kebijakan fiskal pemerintah disusun untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempercepat pemerataan kesejahteraan rakyat.
“Saya memandang APBN bukan sekadar dokumen keuangan negara, APBN adalah wujud dari alat perjuangan kita sebagai bangsa, APBN adalah alat untuk melindungi rakyat, memperkokoh dasar-dasar dan sendi-sendi ekonomi bangsa,” ujar Prabowo.
Ia mengatakan APBN juga menjadi instrumen untuk memastikan seluruh warga negara memperoleh kehidupan yang lebih layak dan sejahtera. Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan cita-cita pendiri bangsa yang tertuang dalam UUD 1945.
“Dengan kesadaran itu, APBN kita susun sebagai bentuk komitmen bersama untuk mewujudkan cita-cita mulia yang telah diamanatkan dalam UUD 1945,” kata Prabowo.
Target Makro Ekonomi
Dalam pemaparan kerangka ekonomi makro 2027, pemerintah menargetkan pendapatan negara berada di kisaran 11,82% hingga 12,40% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara belanja negara dirancang sebesar 13,62% hingga 14,80% dari PDB untuk mendukung berbagai program prioritas nasional.
Di sisi lain, pemerintah menargetkan defisit APBN tetap terjaga pada rentang 1,80% hingga 2,40% terhadap PDB. “Kita akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit ini,” ucap Prabowo.
Pemerintah juga mematok sejumlah asumsi makro ekonomi lain, di antaranya suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun di kisaran 6,5% hingga 7,3%, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500.
“Strategi fiskal dan moneter kita haruslah strategi yang mampu menjaga nilai tukar rupiah kita tetap stabil terhadap mata uang dunia,” kata Prabowo.
Sementara inflasi ditargetkan tetap terkendali di kisaran 1,5% hingga 3,5%. Di sektor energi, harga minyak mentah Indonesia diperkirakan berada di level US$70 hingga US$95 per barel.
Pemerintah juga menargetkan lifting minyak bumi sebesar 602 ribu hingga 615 ribu barel per hari dan lifting gas mencapai 934 ribu hingga 977 ribu barel setara minyak per hari.
Optimisme Pertumbuhan 8%
Prabowo optimistis strategi ekonomi yang disebut pruden dan berkelanjutan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,8% hingga 6,5% pada 2027, sebagai jalan menuju target pertumbuhan 8% pada 2029.
“Pertumbuhan tersebut harus tercermin pada peningkatan kesejahteraan rakyat secara nyata,” tutur Prabowo.
Pemerintah juga memasang target penurunan angka kemiskinan menjadi 6,0% hingga 6,5%, lebih rendah dibanding target sebelumnya di kisaran 6,5% hingga 7,5%. Tingkat pengangguran terbuka juga ditargetkan turun menjadi 4,30% hingga 4,87%.
Selain itu, pemerintah ingin memperkecil ketimpangan ekonomi dengan menurunkan rasio gini ke rentang 0,362 hingga 0,367. “Jarak antara yang terkaya dan termiskin tidak boleh semakin lebar, bahkan harus kita perjuangkan untuk terus menyempit,” kata Prabowo.
Di sektor sumber daya manusia, indeks modal manusia ditargetkan meningkat menjadi 0,575. Sementara di bidang pertanian, indeks kesejahteraan petani diproyeksikan naik menjadi 0,8038 dari sebelumnya 0,7731.
Prabowo juga menyoroti kenaikan nilai tukar petani yang saat ini mencapai angka 126 dan disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah.
“Nilai tukar petani yang sekarang sudah mencapai tertinggi sepanjang sejarah di angka 126, harus kita perjuangkan untuk bisa kita tingkatkan lagi,” tuturnya.
Selain itu, pemerintah menargetkan peningkatan proporsi lapangan kerja formal menjadi 40,81% pada 2027, naik dari 35% pada 2026, seiring upaya pembukaan lapangan kerja dalam skala besar. (H-3)
